Menyibak Misteri Kekal Akhirat : Tinjauan Ilmu Fisika


Menurut teori relatifitas, bahwa ruang dan waktu akan berlaku relatif sesuai dengan kerangka acuan tertentu yang digunakan. Dengan teori ini, Albert Einstein mendobrak pemahaman kemutlakan ruang dan waktu. Kita semua pasti mengetahui, bahwa sains sangatlah rentan akan perubahan. Tetapi ada beberapa konsep dari teori realitivitas justru menjelaskan dan menguatkan konsep ajaran islam. Bagaimana jika sekarang kita mencoba mengaitkan teori reelativitas khusus dengan konsep kekal pada alam akhirat. Bagaimanakah teori realitivitas khusus bisa membuktikan bahwa akhirat itu betul-betul kekal, sebagaimana yang dikabarkan di Al-Quran? Bukankah ilmu pengetahuan dan ajaran agama saling berkaitan dalam hubungan harmonis.

1. KESEIMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DENGAN AGAMA
Islam adalah sebuah jalan hidup atau millah. Kata Islam berarti masuk dalam perdamaian. Ada juga yang mengartikan penyerahan atau kepatuhan. Agama artinya ketaatan, pembalasan, atau perintah. Dalam pengertian kita selama ini, Islam adalah agama. Sekarang ini, pengertian agama mengalami penyusutan makna. Bahwa agama hanyalah bentuk komunikasi atau hubungan antara manusia dan Tuhan mereka. Sederhananya, agama dianggap layaknya bentuk kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Mungkin Islam bisa kita tegaskan sebagai bentuk agama dengan pengertian agama yang lebih mengena. Islam adalah sebuah dien yang diwahyukan Allah SWT melalui Nabi-nya yang bernama Muhammad s.a.w.


Ilmu pengetahuan adalah produk dari olahan pikiran manusia. Tujuan ilmu pengetahuan bukan hanya sekedar untuk mendapatkan informasi dan bukan pula sekedar untuk menyampaikan semua pandangan yang tidak saling betentangan. Selain itu juga bertujuan untuk mencapai suatu kesepakatan pendapatan rasional mengenai bidang yang mungkin sangat luas. Para ilmuwan memahami banyak hal tidak dapat tersentuh dan terkendali oleh sains dan teknolgi. Pada saat itu terjadi, maka hanya agamalah yang mampu menanganinya. Dan disinilah dibutuhkan peran agama sebagai norma untuk mambatasinya. Tetapi bukan berarti bahwa ilmu pengetahuan tidak berguna untuk mendukung ajaran agama. Bahkan dalam Agama Islam diajarkan bahwa melakukan penelitian atau pembelajaran terhadap alam semesta mrupakan bagian dari ijtihad dalam rangka memahami ayat-ayat Al-Qur’an sebagai bentuk peningkatan kualitas keberagamaannya.


Ilmu pengetahuan memerlukan adanya keseimbangan dalam menjawab persoalan inti kehidupan manusia dengan ajaran dan keyakinan agama. Sehingga kesimpulan akhir bahwa agama sangat diperlukan merupakan formulasi manusia itu sendiri, bukan agama yang memaksa manusia untuk mempercayai itu. Contohnya, salah sau peristiwa mukzizat Nabi Muhammad s.a.w. adalah membelah bulan dengan satu gerakan jari telunjuknya. Peristiwa ini disaksikan oleh segenap kaum Quraish yang tidak beriman. Padahal realitanya bahwa peristiwa tersebut adalah suatu keajaiban yang memang di luar akal manusia. Sebenarnya gagasan untuk memadukan dalam hubungan yang harmonis antara ilmu pengetahuan dan islam sudah dimulai sejak tahun 1970-an. Perkembangan sains dan islam ini terus berkembang, hingga muncul beberapa teori yang bisa memecahkan beberapa peristiwa misteri hingga sesuatu yang abstrak.


Einstein pun akhirnya menyadari betapa ilmu pengetahuan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari agama. Dan agama merupakan puncak dari kenikmatan dan ketinggian lmu pengetahuan. Dan Einstein akhirnya mengakui adanya wujud sebuah entitas Tuhan yang maha mengatur perjalanan jagad raya ini.


2. HUBUNGAN TEORI EINSTEIN DENGAN AKHIRAT
Dalam berita tentang kehidupan manusia sejak dari tidak ada, lahir di alam dunia, mati hingga kehidupan setelah kematian, terdapat dalam kitab Al-Qur’an maupun Al-Hadist. Alur kehidupan manusia dilengkapi dengan konsep munculnya kelahiran, kematian, kiamat, bangkit dari kubur, Mizan, Hisab, Titian Shirathal-Mustaqim, surga serta neraka. Saat ini kekal akhirat merupakan misteri illahi yang sampai sekarang masih menimbulkan banyak pertanyaan. Keyakinan terhadap alam akhirat merupakan salah satu rukun iman yang menjadi inti ilmu tauhid dalam Islam. Keberadaan akhirat tidak bisa dipikirkan hanya secara logika, kena akhirat itu ghaib, berada di luar kemampuan akal manusia untuk menjangkaunya.


Kondisi surga dan neraka adalah penggambaran yang diambil secara tekstual dari surat-surat dalam Al-Qur’an. Surga telah Allah SWT sediakan untuk orang-orang yang beriman. Dan keadaan surga digambarkan sama dengan keadaan dunia walaupun dalam bentuk yang berbeda. Salah satu kenikmatan di surga bagi para penghuni surga adalah mlihat Tuhan. Dua kali manusia bertemu Tuhan, petama kali di Mahyar dan kedua di dalam surga. Berbeda sekali dengan neraka, neraka berisikan api yang sangat panas. Tapi terkadang neraka menjadi dingin, lebih dingin dari apa yang terdingin di dunia ini. Antara surga dan neraka letaknya berdampingan dan hanya dibatasi oleh sebuah tabir. Para penghuni surga dapat melihat dan mendengar apa yang dikatakan para penguin neraka. Namun penghuni surga tidak merasakan sedikitpun hawa atau panas api neraka.


Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang membicarakan tentang konsep waktu. Dalam salah satnya surat Al-‘Ashr (103) yang artinya masa atau waktu. Dan Allah SWT telah memperingatkan tentang keutamaan umatnya dalam menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Al-Qur’an ternyata mengungsung konsep tentang waktu. Pertama, waktu dan juga segala apa yang berada diantara bumi dan langit adalah ciptaan Allah SWT. Kedua, bahwa waktu diciptakan dalam ukuran tertentu. Ketiga, waktu ternyata tidak berjalan secara konstan. Bebarapa surat di dalam Al-Qur’an menjelaskan tentang kondisi yang menyebabkan waktu bisa bersifat relatif. Keempat, bahwa waktu adalah cerapan, maka waktu seseorang akan tergantung dari kemampuan cerapan orang. Pada dasarnya, kehidupan di alam dunia ini hanya sekilas saja jika acuannya adalah kehidupan di alam kubur atau akhirat nanti.


Teori Relativitas atau dikenal juga teori Einstein adalah teori tentang realitas fisik yang menggambarkan fenomena alam secara kuantitatif. Teori relativitas Einstein terdiri dari dua bagian, yaitu Relatifitas Khusus (1905) dan Relatifitas Umum (1916). Salah satu pemicu munculnya teori Relativitas Khusus adalah hipotesis Maxwell tentang eter sebagai suatu substansi asin yang menjadi medium merambatkan gelombang laut, atau udara sebagai medium gelombang getaran bunyi. Teori Relativitas berangkat dari dua postulat. Postulat ke-0 (korespondenssi), bahwa untuk setiap gerakan berkelajuan rendah, konsep-konsep dan hokum-hukum relativistic yang muncul harus sesuai dengan konsep-konsep yang telah ada dalam tori Newton. Postulat pertama, seluruh hukum alam adalah sama dalam seluruh system inertial yang bergerak seragam, relative terhadap yang lain. Postulat kedua, kecepatan cahaya adalah sama dalam seluruh sistem inertial yang bergerak seragam, relatif terhadap yang lain. Dari kedua postulat tersebut, akan didapatkan formulai bekaitan tentang bagaimana gerak relatif dapat mepengaruhi pengukuran selang waktu.


Beberapa uji atau eksperimen yang mendukung kebenaran ramalan-ramalan teori relatifitas khusus, dalam hal ini dilatasi waktu telah dilakukan beberapa kali yang dilakukan oleh ilmuwan lain yang memastikan bahwa teori relativitas Einstein dapat berimplikasi pada pemuluran waktu. Konsep waktu-pun terus berkembang dimana tercatat ilmuwan besar Newton dan Galileo yang menyimpulkan ruang dan waktu bersifat absolute dan gerak besifat relatif terhadap laju pengamatan.


Konsep ruang-waktu relatif inilah yang menjadi konsep utama dalam teori relativitasnya. Einstein mempercayai bahwa waktu tidak boleh didefinisikan sebagai suatu relatitas absolute, namun relatif bergantung pada kencepatan sinyal. Begitu juga dengan konsep ruang. Pada akhirnya teori ini dapat memberikan formulai matematis tentang konsep ruang dan waktu yang relatif. Sehingga dalam menentukan suatu koordinat peristiwa, tidak cukup hanya dengan tiga dimensi ruang, namun perlu dilengkapi dengan satu dimensi waktu.


3. MISTERI KEKAL AKHIRAT
Namun yang akan kita ungkap adalah seperti apa bentuk hubungan harmonis yang dimaksud. Strateginya adalah dengan mencari kesimpulan yang saling mendukung antara hasil penemuan ilmuwan dengan konsep ilmiah yang diberitakan Islam melalui kitab suci Al-Qur’an. Mempersiapkan dan mengenali apa yang akan dilakukan di masa depan adalah salah satu bentuk keseriusan dan keyakinan akan masa depan itu. Apalagi alam akhirat adalah kehidupan tingkat tinggi dan tujuan akhir dari segala apa yang manusia lakukan selama hidup di dunia ini. Dengan kata lain, apa yang manusia lakukan di kehiduan dunia ini adalah bagian dari persiapan agar kehidupan di alam selanjutnya lebih baik. Dan akhirnya kita bisa memahami betapa pentingnya perencanaan sebagai bentuk persiapan. Apalagi kita tahu, bahwa kualitas kehidupan manusia berlaku secara berkesinambungan. Maksudnya adalah bahwa kualitas kehidupan manusia di alam dunia ini akan membawa pengaruh bagi kehidupan selanjutnya, yaitu alam akhirat.



Kekal yang melekat pada sifat akhirat bukan berarti kekal yang tiada batas atau abadi selama-lamanya. Kekal yang dimaksud memiliki makna tak terhingga lamanya oleh hitungan waktu manusia akan tetapi tetap terbatas dan pada akhirnya nanti akan berakhir. Atau dengan kata lain kekal pada alam akhirat berarti kekal relatif, sedangkan kekal yang menjadi sifat Allah SWT, berarti kekal mutlak. Dan surga adalah kekal adanya, sedangkan neraka relatif sampai dosa jiwa dan ruh manusia sudah terbebas dan bersih dari dosa. Dan neraka tidak kekal.


sumber:madellia-agribisnis.blogspot.com
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ISLAM BERWAWASAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger