Tampilkan postingan dengan label ISLAMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAMI. Tampilkan semua postingan

Rahasia Angka 19 dalam Al Quran

Ini adalah satu bukti lagi atas keajaiban Al Quran yang membuktikan bahwasannya Al Quran tidak mungkin dibuat oleh Muhammad yang tidak bisa baca dan tulis. Tetapi Al Quran adalah Wahyu ALLAH SWT yang di sampaikan kepada Rosululloh Muhammad SAW.
Rahasia Angka 19 dalam Al Quran
Pada surat ke-74 (Al Mudatsir) ayat : 30-31, yang artinya sbb :

“Yang atasnya ada sembilanbelas. …….., dan tidaklah Kami jadikan bilangan mereka itu (angka 19) melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya, dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu, dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir berkata: Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan?”.

Keajaiban angka 19 di dalam kitab AlQur’an ini pertama kali ditemukan seorang sarjana pertanian Mesir bernama Rashad Khalifa. Hasil penemuannya ini didemonstrasikan ketika diselenggarakan Pameran Islam Sedunia di London pada tahun 1976 . Berikut cuplikan dari sebagian penemuannya tersebut :

1. “Bismillaahirrahmaanirraah​ iim” (dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) sebagai pembuka setiap surat dalam Al Qur’an ternyata terdiri dari 19 huruf (atau 19 X 1 ).

2. Bacaan ‘Basmalah’ terdiri dari kelompok kata : Ismi – Allah – Arrahman – Arrahim. Jumlah dari masing-masing kata tersebut dalam Quran ternyata selalu merupakan kelipatan angka 19.

Kata dalam Al Qur’an Jumlah Kelipatan 19

Ismi 19 19 X 1

Allah 2.698 19 X 142

Arrahman 57 19 X 3

Arrahim 114 19 X 6

Apabila faktor pengalinya dijumlahkan hasilnya juga merupakan kelipatan angka 19 , yaitu 1 + 142 + 3 + 6 = 152 (atau 19 X 8).

3. Jumlah total keseluruhan surat-surat dalam Quran sebanyak 114 surat (atau 19 X 6 ).

4. Bacaan ‘Basmalah’ dalam Quran ditemukan sebanyak 114 buah (atau 19 X 6 ), dengan perincian sbb: Sebanyak 113 buah ditemukan sebagai pembuka surat-surat kecuali surat ke-9 (At Taubah), sedangkan sebuah lagi ditemukan di surat ke-27 ayat : 30.

5. Dari point 4 di atas, ditemukan hubungan yang menarik antara surat ke-9 dan ke-27. Surat ke-27 ternyata merupakan surat yang ke-19 jika dihitung dari surat ke-9.

============ surat ke : 9, 10, 11, 12, ………………., 25, 26, 27

======= urutan surat ke : 1, 2, 3, 4, ………………., 17, 18, 19.

6. Surat ke-27 ayat : 30 tempat ditemukannya bacaan ‘Basmalah’. Jika nomor surat (27) dan nomor ayatnya (30) dijumlahkan , yaitu 27 + 30 = 57. Hasilnya merupakan kelipatan angka 19(atau 19 X 3 ).

7. Dari point 6, apabila bilangan surat-surat dijumlahkan mulai dari surat ke-9 s/d ke-27, (9+10+11+12+…+24+25+26+27)​ maka hasilnya adalah 342 (atau 19 X 18 ).

8. Wahyu pertama (Surat ke-96 ayat : 1-5 ) terdiri dari 19 kata (atau 19 X 1 ) dan 76 huruf (atau 19 X 4 )

9. Wahyu kedua (Surat ke-68 ayat : 1-9 ) terdiri dari 38 kata (atau 19 X 2 ).

10. Wahyu ketiga (Surat ke-73 ayat : 1-10 ) terdiri dari 57 kata (atau 19 X 3 ).

11. Wahyu terakhir (Surat ke-110 ) terdiri dari 19 kata (atau 19 X 1 ), dan ayat pertama dari Surat ke-110 tersebut terdiri dari 19 huruf (19X1).

12. Wahyu yang pertamakali menyatakan ke-Esaan Allah adalah wahyu ke-19 (Surat ke-112, Al Ikhlas)

13. Surat ke-96 tempat terdapatnya wahyu pertama, terdiri dari 19 ayat (atau 19 X 1 ) dan 304 huruf (atau 19 X 16 ). Selain itu juga ternyata surat ke-96 tersebut merupakan surat yang ke-19 bila diurut/ dihitung mundur dari belakang Quran.

=========== surat ke : 114, 113, 112, 111, ………………., 98, 97, 96

======= urutan surat ke : 1, 2, 3, 4, ………………., 17, 18, 19.

Bukti-bukti di atas menunjukkan bahwa Quran tersusun dengan perhitungan sistim kunci (interlocking system), sesuai maksud dari surat ke-85 ayat : 20, yang artinya : “Allah telah mengepung/ mengunci mereka dari belakang”.

14. Dari point 13, apabila bilangan surat-surat dijumlahkan mulai dari surat ke-114 s/d ke-96, (114+113+112+111+…+98+97+9​6) maka hasilnya adalah 1995 (atau 19 X 105 ).

15. Bagian tengah-tengah Quran jatuh pada Surat ke-18 (Al Kahfi) ayat : 19 (atau 19 X 1 ).

16. Penulis juga menemukan bukti bahwa surat-surat yang memiliki 8 (delapan) ayat dan 11 (sebelas) ayat ditemukan yang paling banyak dalam Quran, yakni masing-masing terdiri dari 5 (lima) buah surat. Disusul kemudian surat-surat yang memiliki 3 (tiga), 19 (sembilan belas), 29 (dua puluh sembilan), 30 (tiga puluh), dan 52 (lima puluh dua) ayat, yang masing-masing terdiri dari 3 (tiga) buah surat. Apabila dijumlahkan ayat-ayat tersebut sesuai dengan kelompoknya maka hasilnya merupakan kelipatan angka 19, yaitu sbb :

= surat ke: 94, 95, 98, 99, 102 masing-masing terdiri dari: 8 ayat

= surat ke: 62, 63, 93, 100, 101 masing-masing terdiri dari: 11 ayat

Apabila jumlah ayat-ayatnya dijumlahkan : 8+11=19, (atau 19 X 1 )

== surat ke : 103, 108, 110 masing-masing terdiri dari: 3 ayat

== surat ke : 82, 87, 96 masing-masing terdiri dari: 19 ayat

== surat ke : 48, 57, 81 masing-masing terdiri dari: 29 ayat

== surat ke : 32, 67, 89 masing-masing terdiri dari: 30 ayat

== surat ke : 14, 68, 69 masing-masing terdiri dari: 52 ayat

Apabila jumlah ayat-ayatnya dijumlahkan : 3+19+29+30+52=133, (atau 19X7).

17. Quran merupakan satu-satunya kitab suci di dunia ini yang memiliki tanda-tanda khusus (initials) berupa huruf-huruf (code letters) atau sebagaimana disebut dalam bahasa Arab “Muqatta-‘aat” yang artinya “kata singkatan”. Di dalam Quran terdapat sebanyak 29 (dua puluh sembilan) surat-surat yang diawali dengan 14 (empat belas) macam kombinasi dari 14 (empat belas) huruf-huruf “Muqatta-‘aat”. 14 huruf-huruf itu adalah : alif, lam, mim, ra’, kaf, ha’, yaa’, ain, shad, tha’, shin, qaf, nun, dan kha’.

14 macam kombinasi huruf adalah :

1. Alif, lam, mim

2. Kha, mim

3. Alif, lam, ro’

4. Alif, lam, mim, ro’

5. Tho’, sin

6. Tho’, sin, mim

7. Ya’, sin

8. Nun

9. Kaf, kha’, ya’, ain, shod

10. Alif, lam, mim, shod

11. Shod

12. Qof

13. Ain, sin, qof

14. Tho’, ha’

Ke – 29 surat-surat itu adalah : surat ke : 2, 3, 7, 10 11, 12, 13, 14, 15, 19, 20, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 36, 38, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 50, dan 68. Jika bilangan dari banyaknya huruf (14), banyaknya kombinasi (14), dan jumlah surat (29), maka hasilnya: 14 + 14 + 29 = 57. (atau 19 X 3 ).

18. Surat ke-68 diawali huruf ‘Nun’. Setelah diteliti jumlah huruf ‘Nun’ yang terdapat pada surat tersebut merupakan kelipatan 19.

Surat ke Jumlah kata‘Nun’ kelipatan 19

68 133 19 X 7

19. Surat ke-42 dan surat ke-50 diawali huruf ‘Qof’. Setelah diteliti huruf ‘Qof’ yang terdapat pada kedua surat tersebut sebanyak 114 huruf (atau 19 X 6 ). Ada yang berpendapat bahwa huruf ‘Qof’ ini singkatan dari kata ‘Quran’ karena Quran terdiri dari 114 surat.

Surat ke Jumlah kata ‘Qof’ kelipatan 19

Surat ke 42 = 57 kata = 19 X 3
Surat ke 50 = 57 kata = 19 X 3

Jumlah = 57 + 57 = 114 = 19 X 6

20. Surat ke-42 diawali huruf ‘Ain’, ’Sin’, dan ‘Qof’. Setelah diteliti jumlah total ketiga huruf tersebut pada surat ke-42 merupakan kelipatan 19.

Surat ke ‘Ain’ ‘Sin’ ‘Qof’ Total kelipatan 19

42 98 54 57 209 19 X 11

21. Surat ke-36 (Yasin) diawali huruf ‘Ya’, dan ‘Sin’. Setelah diteliti jumlah total kedua huruf tersebut pada surat ke-36 merupakan kelipatan 19.

Surat ke ‘Ya’ ‘Sin’ Total kelipatan 19

36 237 48 285 19 X 15

22. Surat ke-13 diawali huruf ‘Alif’, ‘Lam’, ‘Mim’, dan ‘Ro’. Jumlah total huruf-huruf tersebut pada surat ke-13 merupakan kelipatan 19.

Surat ke Alif’ Lam Mim Ro total kelipatan 19

13 605 480 260 137 1482 19 X 78

23. Surat ke-7 diawali huruf ‘Alif’, ‘Lam’, ‘Mim’, dan ‘Shod’. Jumlah total huruf-huruf tersebut pada surat ke-7 merupakan kelipatan 19.

Surat ke Alif’ Lam Mim Shod total kelipatan 19

7 2529 1530 1164 97 5320 19 X 280

24. Surat ke-19 diawali huruf ‘Kaf’, ‘Kha’, ‘Ya’, Ain, dan ‘Shod’. Jumlah total huruf-huruf tersebut pada surat ke-19 merupakan kelipatan 19.

Surat ke Kaf Kha Ya Ain Shod total kelipatan 19

19 137 175 343 117 26 798 19 X 42

25. Surat ke-7, 19, dan 38 diawali huruf ‘Shod’. Total jumlah huruf ‘Shod’ dalam ketiga surat tersebut ternyata merupakan kelipatan 19.

Surat ke Jumlah kata Shod kelipatan 19
Surat ke 7 = 97 kata
Surat ke 19 = 26 kata

Surat ke 38 =29 kata

Jumlah total = 7 + 26 + 29 = 152 = 19 X 8

Ada hal yang menarik, yakni pada surat ke-7 ayat 69 ditemukan kata ‘basthatan’ (jika dieja terdiri dari huruf ba’, shod, tho’, ta’). Padahal lazimnya kata tersebut haruslah dieja dengan huruf ba’, sin, tho’, ta’ (contohnya pada surat ke-2 ayat 247). Menurut riwayat, pada saat turunnya ayat 69 tersebut Jibril menyuruh Nabi Muhammad menuliskan kata ‘basthatan’ dengan huruf shod, namun unsur huruf ‘shod’ itu tetap harus dibaca sebagai huruf ‘sin’, dan hal ini ditandai dengan huruf sin tersebut ditempatkan sebagai huruf kecil di atas huruf ‘shod’. Tampak sekali bahwa Allah memberi tambahan huruf ‘shod’ agar jumlahnya dalam Quran menjadi berkelipatan 19, sebab jika tidak maka jumlahnya berkurang menjadi 151.

26. Surat ke-40 s/d ke-46 diawali huruf ‘Kha’ dan Mim. Setelah diteliti jumlah total kedua huruf tersebut pada surat-surat tersebut merupakan kelipatan 19.

Surat ke Kha Mim Jumlah kelipatan 19
Surat ke 40 = 64 + 380 – -
Surat ke 41 = 48 + 276 – -
Surat ke 42 = 53 + 300 – -
Surat ke 43 = 44 + 324 – -
Surat ke 44 = 16 + 150 – -
Surat ke 45 = 31 + 200 – -
Surat ke 46 = 36 + 225 – -

Jumlah 292 1855 2147 19 X 113

27. Surat ke-10, 11, 12, 14, dan 15 diawali huruf ‘Alif’, ‘Lam’, dan ‘Ro’. Jumlah total huruf-huruf tersebut pada surat-surat tersebut merupakan kelipatan 19.

Surat ke Alif Lam Ro total kelipatan 19

10 1319 913 257 2489 19 X 131

11 1370 794 325 2489 19 X 131

12 1306 812 257 2375 19 X 125

14 585 452 160 1197 19 X 63

15 493 323 96 912 19 X 48

28. Surat ke-2, 3, 29, 30, 31, dan 32 diawali huruf ‘Alif’, ‘Lam’, dan ‘Mim’. Jumlah total huruf-huruf tersebut pada surat-surat tersebut merupakan kelipatan 19.

Surat ke Alif Lam Min total kelipatan 19

2 4502 3202 2195 9899 19 X 521

3 2521 1892 1249 5662 19 X 298

29 774 554 344 1672 19 X 88

30 544 393 317 1254 19 X 66

31 347 297 173 817 19 X 43

32 257 155 158 570 19 X 30

29. Surat ke-19 diawali huruf kaf, ha’, ya’, ain, dan shod.

Surat ke-20 diawali huruf tho’ dan ha’.

Surat ke-26 diawali huruf tho’, sin, dan mim.

Surat ke-27 diawali huruf tho’ dan sin

Surat ke-28 diawali huruf tho’, sin, dan mim. Perhatikanlah hubungan berikut ini :

Surat ke Awal-an tho ha sin mim Jumlah (kelipatan 19)

19 kaf,ha,ya,’ain,shod x 175 x x

20 tho, ha 28 251 x x

26 tho, sin, mim 33 x 94 484

27 tho, sin 27 x 94 x

28 tho, sin , mim 19 x 102 460

Jumlah 107 426 290 944 1767 (19X93)

Lebih jauh tentang keistimewaan Angka 19 :

* Keistimewaan angka 19 dalam ilmu matematik dikenal sebagai salah satu ‘Bilangan Prima’ yakni bilangan yang tak habis dibagi dengan bilangan manapun kecuali dengan dirinya sendiri. Keistimewaan tersebut melambangkan bahwa sifat-Nya yang serba MAHA tidak dibagikan kepada siapapun juga kecuali bagi diri-Nya sendiri (Surat ke-112 ayat 3).

* Angka 19 terdiri dari angka 1 dan 9, dimana angka 1 merupakan bilangan pokok pertama dan angka 9 merupakan bilangan pokok terakhir dalam sistem perhitungan kita. Keistimewaan tersebut menunjukkan sifat Allah yakni ‘Maha Awal dan Maha Akhir’ (Surat ke-57 ayat : 3).

* Angka 1 melambangkan sifat-Nya yang ‘Maha Esa’ (surat ke-112 ayat 1), sedangkan angka 9 sebagai bilangan pokok terbesar melambangkan salah satu sifatnya yang ke-38 yaitu ‘Maha Besar’.

* Dalam Kalender Tahun Komariyah (Sistem Peredaran Bulan), terjadinya Tahun Kabisat terjadi pada setiap 19 tahun sekali.

* Kerangka manusia yaitu : – tulang leher ada 7 ruas, tulang punggung ada 12 ruas, jadi jumlahnya 19 ruas. (Referensi: “Atlas Anatomi”, Prof. Dr. Chr. P. Raven).

* Jumlah jari jemari anda mengandung keajaiban angka 19 ? (catatan: dengan mengabaikan ruas-ruas tulang pergelangan). Silakan anda hitung sendiri maka akan anda dapati sbb:

jari kelingking ==> ada empat ruas

jari manis ==> ada empat ruas

jari tengah ==> ada empat ruas

jari telunjuk ==> ada empat ruas

jari jempol (ibu jari) ==> ada tiga ruas

———————– +

( 4 + 4 + 4 + 4 + 3 ) Total jumlah = 19 ruas

Wallahu a’lam bissawab.

“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al Quran dan Kami pulalah yang tetap menjaganya.” (15 ayat 9)

“Yang tidak datang kepadanya (Quran) kesalahan/kekeliruan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (41 ayat 42)

“Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman-Nya yang membedakan antara yang benar dengan yang salah.” (86 ayat 13 )

“Dan bacakanlah apa yang diwahtukan kepadamu yaitu Kitab Tuhanmu (Quran). Tidak ada seorangpun yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari pada-Nya.” (18 ayat 27)

TELAPAK TANGAN

Setiap orang pasti mempunyai garis sebagaimana yang ada pada gambar. Perhatikan tapak tangan anda, dengan ibu jari di sebelah atas, maka akan terlihat garis berbentuk I/\ & /\I (dalam angka arab, yang berarti: 18 & 81). Apa bila dijumlah 18 + 81 = 99. Kita tahu bahwa 99 adalah Asma ul Husna (Nama-nama Allah).

Jika tapak tangan kiri di atas tapak tangan kanan dibawah kemudian dikurangkan, maka menjadi: 81 – 18 = 63. Ini adalah umur Rasulullah Saw, dan juga umur manusia pada umumnya saat ini.

Bila 18 dan 81 ini dirangkaikan, maka terbentuk angka 1881. Angka ini adalah angka kelipatan 19 yang ke-99

( 19 x 99 = 1881 ). Seperti diketahui angka 19 adalah fenomena tersendiri dalam Al-Quran,yang merupakan salah satu kemukjizatan al-Quran.


RENUNGKAN KEKUASAAN DAN KEBESARAN ALLAH !!

Keren, Kaligrafi Cahaya...

Julien Breton a.k.a Kaalam, seorang artis kaligrafi dari Prancis berkreasi dengan cahaya dan teknik fotografi menghasilkan karya indah: kaligrafi cahaya.
Jangan salah, Kaalam sama sekali tidak menggunakan sotware semacam photoshop (sotosop :P). Pokoknya, tanpa sentuhan akhir di komputer. Melainkan asli hasil jepretan kamera belaka.

Dalam teknik fotografi, dikenal istilah long exposure technique atau pemotretan memanfaatkan panjang cahaya. Contoh mudahnya: saat maghrib, coba jepret dengan kamera handphone suasana lalu-lalang kendaraan di jalan raya. Hasil foto akan memperlihatkan lampu semua kendaraan menjadi garis panjang.
Pada kamera SLR/DSLR, panjang cahaya itu bisa diatur dengan memainkan diafraghma (f) dan speed. Semakin lambat speed, semakin panjang pula lukisan cahaya yang dihasilkan.
Dengan cara itulah Kaalam membuat lukisan kaligrafi cahaya ini. Beberapa fotonya menahan tombol rana hingga 10 menit agar cahaya bisa meliuk-liuk membentuk kaligrafi.
Kaalam belajar kaligrafi secara otodidak sejak usia 7 tahun dan tertarik dengan kaligrafi Arab. Lalu menciptakan jenis huruf (font/typho) latin dengan gaya kaligrafi Arab.

Fotografer: David Gallard









Mau lihat karyanya lebih lengkap, klik link paling bawah...


kaalam.free.fr
apakabardunia.com

Fikih Muslimah: Melayat Jenazah Non-Muslim, Bolehkah?

Fikih Muslimah: Melayat Jenazah Non-Muslim, Bolehkah?
Kuburan non-Muslim (ilustrasi).
REPUBLIKA.CO.ID, Indonesia merupakan negara yang sangat majemuk. Mulai dari adat istiadat, bahasa, suku bangsa, hingga agama. Walaupun berbeda-beda dalam banyak hal, bangsa ini senantiasa diselimuti dengan keharmonisan.

Berbagai problematika sosial, seperti pertikaian antarsuku, ia laksana riak-riak kecil buih di lautan. Keharmonisan dalam keragaman itu, membuat bangsa ini selalu menjadi daya tarik negara lain untuk mempelajari kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia.

Dengan keragaman sosial, budaya dan agama itu, maka umat Islam diharuskan untuk menjaga perbedaan itu dalam suasana yang damai dan harmonis. Hubungan dengan tetangga, sanak-saudara yang berbeda keyakinan, hendaknya tidak memengaruhi silaturahim antar-keduanya.

Pertanyaannya, sebagai umat Islam, ketika ada tetangga meninggal dunia yang berbeda keyakinan (agama), bolehkah kita melayatnya? Berbagai pro-kontra muncul dalam menyikapi masalah ini. Ada yang membolehkan, namun banyak pula yang mengabaikannya, dalam arti melarang melayat jenazah non-Muslim.

Dalam masalah ini, Syekh Muhammad Kamil Uwaidah dalam kitabnya Al-Jami’ fi Fiqh al-Nisaa’ menjelaskan, hukum melayat (bertakziyah) untuk jenazah non-Muslim dibolehkan. Demikian pula kalau orang non-Muslim itu sakit, kita dianjurkan untuk menjenguknya.

Anas bin Malik RA meriwayatkan, “Ada anak seorang Yahudi yang mengabdi kepada Nabi SAW. Suatu hari, dia jatuh sakit, dan kemudian Rasul menjenguknya.” Hal yang sama juga dilakukan Nabi Muhammad SAW ketika pamannya, Abu Thalib, meninggal dunia.

Pendapat senada tentang kebolehan umat Islam untuk mengunjungi saudaranya non-Muslim yang sedang sakit, telah diputuskan oleh Majelis Tarjih Muhammadiyah. Dalam buku “Tanya Jawab Agama (1)”, dijelaskan, tidak ada larangan bagi umat Islam untuk melayat jenazah orang non-Muslim. Yang ada larangannya ialah menyalatkan dan mendoakannya.

Larangan menyalatkan jenazah non-Muslim ini termuat dalam surah At-Taubah ayat 84. Sedangkan kebolehan untuk melayat ke kubur dan bukan mendoakannya disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasa’i.

Dari Ali RA, ia berkata, “Aku mengatakan kepada Nabi bahwa pamannya (Abu Thalib) yang sudah tua dan sesat itu meninggal dunia.” Rasul kemudian bersabda; “Pergilah engkau menguburkan bapakmu dan jangan berbuat apa-apa (yang sifat ibadahnya), sampai engkau datang kepadaku lagi.” Maka Ali berkata, “Aku pun pergi menguburkannya dan kemudian datang menjumpai Rasul SAW, yang menyuruh aku mandi dan aku didoakannya.”

Dalam salah satu riwayat disebutkan, bahwa Nabi Muhammad SAW pernah berdiri untuk menghormati jenazah non-Muslim yang diantar menuju ke pemakaman. Ketika sahabat memberitahukan bahwa jenazah itu adalah orang Yahudi, Rasul mengatakan, bahwa beliau berdiri bukan untuk menghormati agama dari si mayit, melainkan sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Wallahu a’lam.
sumber:republika

Perbandingan Waktu Dunia dan Waktu Akhirat

Bismillahirahmanirahim

Assalamu’alaikum wr. Wb

Alhamdulillahirabbil’alamin wabihi nasta’inuhu ‘ala umuridunya waddin, washalatu wasalamu ‘ala asyrofi anbiya I walmursalin sayyidina muhammadin khatamin nabiyina wa’ala alihi wa shahbihi ajmain…ama ba’du

Hadirin jamaah shalat isya, taraweh dan insya Allah shalat witir yang dimuliakan oleh Allah

Pernahkan kita merasa bahwa waktu sangat cepat berlalu…baru kemarin kita merasa bahwa kita melewati hari minggu, kok ini sudah hari rabu lagi, baru kemarin kita mulai puasa, ini sudah 3 hari puasa….beberapa hari lagi malah sudah lebaran…..ada yang tau berapa hari lagi?…
Coba saja…terutama bagi yang mengisi bulan ramadhan ini dengan ibadah, Insya Allah waktu tidak akan terasa, malah kita akan merasa belum melakukan apa-apa kok ramadhan sudah meninggalkan kita..

Hadirin jamaah shalat isya, taraweh dan insya Allah shalat witir yang dimuliakan oleh Allah..

Kenapa kita merasa waktu itu sangat singkat ? karena memang waktu di dunia itu sangat singkat. Allah SWT berfirman dalam quran surat al mu’minun ayat 112 – 114 yang artinya wallahu alam :
Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.”

Dalam adat jawa juga, orangtua kita sering menyampaikan kalo waktu di dunia ini hanya mampir ngombe…. Ngombenya juga mungkin hanya seteguk sehingga coba bayangkan betapa sebentarnya waktu kita di dunia..

Hadirin jamaah shalat isya, taraweh dan insya Allah shalat witir yang dimuliakan oleh Allah..

Nah, sekarang coba kita pikir, bagaimana dengan waktu di akhirat ?


Perbedaan waktu dunia dan waktu akhirat itu sangat jauh. Dalam al-quran surat as sajadah ayat 5 :
“(Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”
Jadi dalam ayat ini disampaikan bahwa perbandingan waktu dunia dengan waktu akhirat itu satu hari di dunia sama dengan 1000 tahun di akhirat… Subhanallah… kalau kita bayangkan pastinya di luar nalar kita….berapa puluh tahun saja terasa lama apalagi seribu tahun ???? apalagi kalo lagi lagi kredit?....cicilan 100 tahun tanpa bunga…

Hadirin yang dimuliakan oleh Allah..
Sekarang coba kita ilustrasikan menghitung waktu hidup kita…
Bapak-bapak atau ibu-ibu mau hidup berapa lama? Tapi ini tentunya hanya ilustrasi karna hidup dan mati itu sudah ditentukan..tapi boleh kita sekedar menghitung untuk membuat harapan tentang usia kita
Coba kita ambil nilai rata-rata saja bahwa manusia di zaman ini hidup sampai umur 60-an tahun. Atau kita ambil contoh dari Rasulullah Saw yang hidup sampai usia 63 tahun. Maka mari kita hitung, 63 tahun…

63 tahun hidup kita di dunia jika kita konversikan ke waktu akhirat hanya bernilai:
= 63 tahun dunia x 1 hari akhirat/ 1.000 tahun dunia
= 0,063 hari akhirat x 24 jam
± 1,5 jam
Na’uudzubillah….ternyata dunia yang sering kita agung-agungkan ini hanya bernilai 1,5 jam di akhirat.

Di dalam jangka waktu 63 tahun itu lah kita akan terlarut dengan hiruk-pikuknya dunia. Hidup, Sekolah/Kuliah, bekerja, beribadah, dan semuanya ada di dalamnya. Dalam 63 tahun itu jugalah kita beristirahat dan tidur dan kadang terbaring sakit. Kalau istirahat per hari mencapai 8 jam (sepertiga dari waktu sehari, 24 jam), berarti selama 63 tahun hidup sekitar 21 tahunnya kita tidur dan istirahat. … ..jadi kalo dikurangi waktu tidur, hidup kita ini hanya 42 tahun atau satu jam saja…
Tidak semua orang yang memanfaatkan 63 tahun itu dengan baik. Sebagiannya orang memilih untuk berbuat maksiat, dan sebagiannya memilih untuk menikmati hidup dengan mengabaikan bahwa mereka hidup di dunia untuk beribadah.
Dunia yang kita sering terlena dengannya, dunia yang kita berusaha mati-matian untuknya ternyata hanya sekejap saja. Dunia yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan akhirat yang kekal selamanya. Bayangkan, satu sampai satu setengah jam dibandingkan dengan keabadian. Satu setengah jam yang nyaris bisa diabaikan untuk beribadah kepada Alloh Tabarokata’ala.
Sekedar untuk pengingat saja, mari kita bandingkan mana yang lebih mudah, memanfaatkan waktu untuk urusan dunia atau untuk urusan akhirat :
1. Mana yang lebih berat, sembahyang Subuh dua rakaat selama 20 menit -30 minit, dengan kerja 8 jam satu hari? Karena urusan dunia atau mencari uang, adakalanya bekerja sangat keras tidak jemu-jemu bekerja satu hari 8 jam namun tidak sanggup sembahyang Subuh sekadar 20-30 menit
2. Mana yang lebih berat menolong kawan karena Allah Taala mungkin sekadar satu dua jam dibandingkan dengan jalan-jalan berjam-jam
3. Mana yang lebih ringan pergi sholat berjemaah yang tidak memakan waktu yang panjang dan tidak juga terlalu jauh dan tidak meletihkan, dibandingkan hendak berekreasi dan membuang-buang waktu di tempat yang jauh mungkin di hutan, di tepi laut, disungai, dan banyak membuang uang, waktu dan akan berhadapan dengan keletihan. Namun orang tidak sanggup pergi sembahyang jemaah tapi sanggup pergi berekreasi.
4. Mana yang lebih berat, menonton film atau membaca buku novel dengan berzikir atau membaca Al Quran sekadar 30 menit.

Makanya mari kita manfaatkan waktu kita sebaik-baiknya agar waktu kita beribadah di dunia ini mendapatkan balasan yang setimpal di akhirat kelak
Bismillahirahman nirahim
Wal ashri, innal insana lafi husrin illa..illaladina amanu waamilushalihatti watawa saubilhaqqi watawa shaubishab…
Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran
Wassalamu’alaikum wr. wb
sumber:sdftyujklvbn.blogspot.com

Menyibak Misteri Kekal Akhirat : Tinjauan Ilmu Fisika


Menurut teori relatifitas, bahwa ruang dan waktu akan berlaku relatif sesuai dengan kerangka acuan tertentu yang digunakan. Dengan teori ini, Albert Einstein mendobrak pemahaman kemutlakan ruang dan waktu. Kita semua pasti mengetahui, bahwa sains sangatlah rentan akan perubahan. Tetapi ada beberapa konsep dari teori realitivitas justru menjelaskan dan menguatkan konsep ajaran islam. Bagaimana jika sekarang kita mencoba mengaitkan teori reelativitas khusus dengan konsep kekal pada alam akhirat. Bagaimanakah teori realitivitas khusus bisa membuktikan bahwa akhirat itu betul-betul kekal, sebagaimana yang dikabarkan di Al-Quran? Bukankah ilmu pengetahuan dan ajaran agama saling berkaitan dalam hubungan harmonis.

1. KESEIMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DENGAN AGAMA
Islam adalah sebuah jalan hidup atau millah. Kata Islam berarti masuk dalam perdamaian. Ada juga yang mengartikan penyerahan atau kepatuhan. Agama artinya ketaatan, pembalasan, atau perintah. Dalam pengertian kita selama ini, Islam adalah agama. Sekarang ini, pengertian agama mengalami penyusutan makna. Bahwa agama hanyalah bentuk komunikasi atau hubungan antara manusia dan Tuhan mereka. Sederhananya, agama dianggap layaknya bentuk kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Mungkin Islam bisa kita tegaskan sebagai bentuk agama dengan pengertian agama yang lebih mengena. Islam adalah sebuah dien yang diwahyukan Allah SWT melalui Nabi-nya yang bernama Muhammad s.a.w.


Ilmu pengetahuan adalah produk dari olahan pikiran manusia. Tujuan ilmu pengetahuan bukan hanya sekedar untuk mendapatkan informasi dan bukan pula sekedar untuk menyampaikan semua pandangan yang tidak saling betentangan. Selain itu juga bertujuan untuk mencapai suatu kesepakatan pendapatan rasional mengenai bidang yang mungkin sangat luas. Para ilmuwan memahami banyak hal tidak dapat tersentuh dan terkendali oleh sains dan teknolgi. Pada saat itu terjadi, maka hanya agamalah yang mampu menanganinya. Dan disinilah dibutuhkan peran agama sebagai norma untuk mambatasinya. Tetapi bukan berarti bahwa ilmu pengetahuan tidak berguna untuk mendukung ajaran agama. Bahkan dalam Agama Islam diajarkan bahwa melakukan penelitian atau pembelajaran terhadap alam semesta mrupakan bagian dari ijtihad dalam rangka memahami ayat-ayat Al-Qur’an sebagai bentuk peningkatan kualitas keberagamaannya.


Ilmu pengetahuan memerlukan adanya keseimbangan dalam menjawab persoalan inti kehidupan manusia dengan ajaran dan keyakinan agama. Sehingga kesimpulan akhir bahwa agama sangat diperlukan merupakan formulasi manusia itu sendiri, bukan agama yang memaksa manusia untuk mempercayai itu. Contohnya, salah sau peristiwa mukzizat Nabi Muhammad s.a.w. adalah membelah bulan dengan satu gerakan jari telunjuknya. Peristiwa ini disaksikan oleh segenap kaum Quraish yang tidak beriman. Padahal realitanya bahwa peristiwa tersebut adalah suatu keajaiban yang memang di luar akal manusia. Sebenarnya gagasan untuk memadukan dalam hubungan yang harmonis antara ilmu pengetahuan dan islam sudah dimulai sejak tahun 1970-an. Perkembangan sains dan islam ini terus berkembang, hingga muncul beberapa teori yang bisa memecahkan beberapa peristiwa misteri hingga sesuatu yang abstrak.


Einstein pun akhirnya menyadari betapa ilmu pengetahuan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari agama. Dan agama merupakan puncak dari kenikmatan dan ketinggian lmu pengetahuan. Dan Einstein akhirnya mengakui adanya wujud sebuah entitas Tuhan yang maha mengatur perjalanan jagad raya ini.


2. HUBUNGAN TEORI EINSTEIN DENGAN AKHIRAT
Dalam berita tentang kehidupan manusia sejak dari tidak ada, lahir di alam dunia, mati hingga kehidupan setelah kematian, terdapat dalam kitab Al-Qur’an maupun Al-Hadist. Alur kehidupan manusia dilengkapi dengan konsep munculnya kelahiran, kematian, kiamat, bangkit dari kubur, Mizan, Hisab, Titian Shirathal-Mustaqim, surga serta neraka. Saat ini kekal akhirat merupakan misteri illahi yang sampai sekarang masih menimbulkan banyak pertanyaan. Keyakinan terhadap alam akhirat merupakan salah satu rukun iman yang menjadi inti ilmu tauhid dalam Islam. Keberadaan akhirat tidak bisa dipikirkan hanya secara logika, kena akhirat itu ghaib, berada di luar kemampuan akal manusia untuk menjangkaunya.


Kondisi surga dan neraka adalah penggambaran yang diambil secara tekstual dari surat-surat dalam Al-Qur’an. Surga telah Allah SWT sediakan untuk orang-orang yang beriman. Dan keadaan surga digambarkan sama dengan keadaan dunia walaupun dalam bentuk yang berbeda. Salah satu kenikmatan di surga bagi para penghuni surga adalah mlihat Tuhan. Dua kali manusia bertemu Tuhan, petama kali di Mahyar dan kedua di dalam surga. Berbeda sekali dengan neraka, neraka berisikan api yang sangat panas. Tapi terkadang neraka menjadi dingin, lebih dingin dari apa yang terdingin di dunia ini. Antara surga dan neraka letaknya berdampingan dan hanya dibatasi oleh sebuah tabir. Para penghuni surga dapat melihat dan mendengar apa yang dikatakan para penguin neraka. Namun penghuni surga tidak merasakan sedikitpun hawa atau panas api neraka.


Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang membicarakan tentang konsep waktu. Dalam salah satnya surat Al-‘Ashr (103) yang artinya masa atau waktu. Dan Allah SWT telah memperingatkan tentang keutamaan umatnya dalam menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Al-Qur’an ternyata mengungsung konsep tentang waktu. Pertama, waktu dan juga segala apa yang berada diantara bumi dan langit adalah ciptaan Allah SWT. Kedua, bahwa waktu diciptakan dalam ukuran tertentu. Ketiga, waktu ternyata tidak berjalan secara konstan. Bebarapa surat di dalam Al-Qur’an menjelaskan tentang kondisi yang menyebabkan waktu bisa bersifat relatif. Keempat, bahwa waktu adalah cerapan, maka waktu seseorang akan tergantung dari kemampuan cerapan orang. Pada dasarnya, kehidupan di alam dunia ini hanya sekilas saja jika acuannya adalah kehidupan di alam kubur atau akhirat nanti.


Teori Relativitas atau dikenal juga teori Einstein adalah teori tentang realitas fisik yang menggambarkan fenomena alam secara kuantitatif. Teori relativitas Einstein terdiri dari dua bagian, yaitu Relatifitas Khusus (1905) dan Relatifitas Umum (1916). Salah satu pemicu munculnya teori Relativitas Khusus adalah hipotesis Maxwell tentang eter sebagai suatu substansi asin yang menjadi medium merambatkan gelombang laut, atau udara sebagai medium gelombang getaran bunyi. Teori Relativitas berangkat dari dua postulat. Postulat ke-0 (korespondenssi), bahwa untuk setiap gerakan berkelajuan rendah, konsep-konsep dan hokum-hukum relativistic yang muncul harus sesuai dengan konsep-konsep yang telah ada dalam tori Newton. Postulat pertama, seluruh hukum alam adalah sama dalam seluruh system inertial yang bergerak seragam, relative terhadap yang lain. Postulat kedua, kecepatan cahaya adalah sama dalam seluruh sistem inertial yang bergerak seragam, relatif terhadap yang lain. Dari kedua postulat tersebut, akan didapatkan formulai bekaitan tentang bagaimana gerak relatif dapat mepengaruhi pengukuran selang waktu.


Beberapa uji atau eksperimen yang mendukung kebenaran ramalan-ramalan teori relatifitas khusus, dalam hal ini dilatasi waktu telah dilakukan beberapa kali yang dilakukan oleh ilmuwan lain yang memastikan bahwa teori relativitas Einstein dapat berimplikasi pada pemuluran waktu. Konsep waktu-pun terus berkembang dimana tercatat ilmuwan besar Newton dan Galileo yang menyimpulkan ruang dan waktu bersifat absolute dan gerak besifat relatif terhadap laju pengamatan.


Konsep ruang-waktu relatif inilah yang menjadi konsep utama dalam teori relativitasnya. Einstein mempercayai bahwa waktu tidak boleh didefinisikan sebagai suatu relatitas absolute, namun relatif bergantung pada kencepatan sinyal. Begitu juga dengan konsep ruang. Pada akhirnya teori ini dapat memberikan formulai matematis tentang konsep ruang dan waktu yang relatif. Sehingga dalam menentukan suatu koordinat peristiwa, tidak cukup hanya dengan tiga dimensi ruang, namun perlu dilengkapi dengan satu dimensi waktu.


3. MISTERI KEKAL AKHIRAT
Namun yang akan kita ungkap adalah seperti apa bentuk hubungan harmonis yang dimaksud. Strateginya adalah dengan mencari kesimpulan yang saling mendukung antara hasil penemuan ilmuwan dengan konsep ilmiah yang diberitakan Islam melalui kitab suci Al-Qur’an. Mempersiapkan dan mengenali apa yang akan dilakukan di masa depan adalah salah satu bentuk keseriusan dan keyakinan akan masa depan itu. Apalagi alam akhirat adalah kehidupan tingkat tinggi dan tujuan akhir dari segala apa yang manusia lakukan selama hidup di dunia ini. Dengan kata lain, apa yang manusia lakukan di kehiduan dunia ini adalah bagian dari persiapan agar kehidupan di alam selanjutnya lebih baik. Dan akhirnya kita bisa memahami betapa pentingnya perencanaan sebagai bentuk persiapan. Apalagi kita tahu, bahwa kualitas kehidupan manusia berlaku secara berkesinambungan. Maksudnya adalah bahwa kualitas kehidupan manusia di alam dunia ini akan membawa pengaruh bagi kehidupan selanjutnya, yaitu alam akhirat.



Kekal yang melekat pada sifat akhirat bukan berarti kekal yang tiada batas atau abadi selama-lamanya. Kekal yang dimaksud memiliki makna tak terhingga lamanya oleh hitungan waktu manusia akan tetapi tetap terbatas dan pada akhirnya nanti akan berakhir. Atau dengan kata lain kekal pada alam akhirat berarti kekal relatif, sedangkan kekal yang menjadi sifat Allah SWT, berarti kekal mutlak. Dan surga adalah kekal adanya, sedangkan neraka relatif sampai dosa jiwa dan ruh manusia sudah terbebas dan bersih dari dosa. Dan neraka tidak kekal.


sumber:madellia-agribisnis.blogspot.com

Khurasan: Negeri Tempat Keluarnya Dajjal

Khurasan: Negeri Tempat Keluarnya Dajjal
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Heri Ruslan ‘’Dajjal akan keluar dari muka bumi ini, di bagian timur yang bernama Khurasan”. (HR Tirmidzi). Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, ‘’ (Pasukan yang membawa) bendera hitam akan muncul dari Khurasan. Tak ada kekuatan yang mampu menahan laju mereka dan mereka akhirnya akan mencapai Yerusalem, di tempat itulah mereka akan mengibarkan benderanya.’’ (HRTurmidzi).

Dalam kedua hadis itu tercantum kata ‘’Khurasan’’. Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas Al-Hadith Al-Nabawi , mengungkapkan, saat ini, Khurasan terletak di ujung timur Laut Iran. Pusat kotanya adalah Masyhad.

Sejarah peradaban Islam mencatat Khurasan dengan tinta emas. Betapa tidak. Khurasan merupakan wilayah yang terbilang amat penting dalam sejarah peradaban Islam. Jauh sebelum pasukan tentara Islam menguasai wilayah itu, Rasulullah SAW dalam beberapa haditsnya telah menyebut-nyebut nama Khurasan.

Letak geografis Khurasan sangat strategis dan banyak diincar para penguasa dari zaman ke zaman. Pada awalnya, Khurasan Raya merupakan wilayah sangat luas membentang meliputi; kota Nishapur dan Tus (Iran); Herat, Balkh, Kabul dan Ghazni (Afghanistan); Merv dan Sanjan (Turkmenistan), Samarkand dan Bukhara (Uzbekistan); Khujand dan Panjakent (Tajikistan); Balochistan (Pakistan, Afghanistan, Iran).

Kini, nama Khurasan tetap abadi menjadi sebuah nama provinsi di sebelah Timur Republik Islam Iran. Luas provinsi itu mencapai 314 ribu kilometer persegi. Khurasan Iran berbatasan dengan Republik Turkmenistan di sebelah Utara dan di sebelah Timur dengan Afganistan. Dalam bahasa Persia, Khurasan berarti ‘Tanah Matahari Terbit.’

Jejak peradaban manusia di Khurasan telah dimulai sejak beberapa ribu tahun sebelum masehi (SM). Sejarah mencatat, sebelum Aleksander Agung pada 330SM menguasai wilayah itu, Khurasan berada dalam kekuasaan Imperium Achaemenid Persia. Semenjak itu, Khurasan menjelma menjadi primadona yang diperebutkan para penguasa.

Pada abad ke-1 M, wilayah timur Khurasan Raya ditaklukan Dinasti Khusan. Dinasti itu menyebarkan agama dan kebudayaan Budha. Tak heran, bila kemudian di kawasan Afghanistan banyak berdiri kuil. Jika wilayah timur dikuasai Dinasti Khusan, wilayah barat berada dalam genggaman Dinasti Sasanid yang menganut ajaran zoroaster yang menyembah api.

***

Khurasan memasuki babak baru ketika pasukan tentara Islam berhasil menaklukkan wilayah itu. Islam mulai menancapkan benderanya di Khurasan pada era Kekhalifahan Umar bin Khattab. Di bawah pimpinan komandan perang, Ahnaf bin Qais, pasukan tentara Islam mampu menerobos wilayah itu melalui Isfahan.

Dari Isfahan, pasukan Islam bergerak melalui dua rute yakni Rayy dan Nishapur. Untuk menguasai wilayah Khurasan, pasukan umat Islam disambut dengan perlawanan yang amat sengit dari Kaisar Persia bernama Yazdjurd. Satu demi satu tempat di Khurasan berhasil dikuasai pasukan tentara Islam. Kaisar Yazdjurd yang terdesak dari wilayah Khurasan akhirnya melarikan diri ke Oxus.

Setelah Khurasan berhasil dikuasai, Umar memerintahkan kaum Muslim untuk melakukan konsolidasi di wilayah itu. Khalifah tak mengizinkan pasukan tentara Muslim untuk menyeberang ke Oxus. Umar lebih menyarankan tentara Islam melakukan ekspansi ke Transoxiana.

Sepeninggal Umar, pemberontakan terjadi di Khurasan. Wilayah itu menyatakan melepaskan diri dari otoritas Muslim. Kaisar Yazdjurd menjadikan Merv sebagai pusat kekuasaan. Namun, sebelum Yadzjurd berhadapan lagi dengan pasukan tentara Muslim yang akan merebut kembali Khurasan, dia dibunuh oleh pendukungnya yang tak loyal.

Khalifah Utsman bin Affan yang menggantikan Umar tak bisa menerima pemberontakan yang terjadi di Khurasan. Khalifah ketiga itu lalu memerintahkan Abdullah bin Amir Gubernur Jenderal Basra untuk kembali merebut Khurasan. Dengan jumlah pasukan yang besar, umat Islam mampu merebut kembali Khurasan.

Ketika Dinasti Umayyah berkuasa, Khurasan merupakan bagian dari wilayah pemerintahan Islam yang berpusat di Damaskus. Penduduk dan pemuka Khurasan turut serta membantu Dinasti Abbasiyah untuk menggulingkan Umayyah. Salah satu pemimpin Khurasan yang turut mendukung gerakan anti- Umayyah itu adalah Abu Muslim Khorasani antara tahun 747 M hingga 750 M.

***

Setelah Dinasti Abbasiyah berkuasa, Abu Muslim justru ditangkap dan dihukum oleh Khalifah Al-Mansur. Sejak itu, gerakan kemerdekaan untuk lepas dari kekuasaan Arab mulai menggema di Khurasan. Pemimpin gerakan kemerdekaan Khurasan dari Dinasti Abbasiyah itu adalah Tahir Phosanji pada tahun 821.

Ketika kekuatan Abbasiyah mulai melemah, lalu berdirilah dinasti-dinasti kecil yang menguasai Khurasan. Dinasti yang pertama muncul di Khurasan adalah Dinasti Saffariyah (861 M - 1003 M). Setelah itu, Khurasan silih berganti jatuh dari satu dinasti ke dinasti Iran yang lainnya. Setelah kekuasaan Saffariyah melemah, Khurasan berada dalam genggaman Dinasti Iran lainnya, yakni Samanid.

Setelah itu, Khurasan menjadi wilayah kekuasaan orang Turki di bawah Dinasti Ghaznavids pada akhir abad ke-10 M. Seabad kemudian, Khurasan menjadi wilayah kerajaan Seljuk. Pada abad ke-13 M, bangsa Mongol melakukan invasi dengan menghancurkan bangunan serta membunuhi penduduk di wilayah Khurasan.

Pada abad ke-14 M hingga 15 M, Khurasan menjadi wilayah kekuasaan Dinasti Timurid yang didirikan Timur Lenk. Khurasan berkembang amat pesat pada saat dikuasai Dinasti Ghaznavids, Ghazni dan Timurid. Pada periode itu Khuran menggeliat menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Tak heran, jika pada masa itu lahir dan muncul ilmuwan, sarjana serta penyair Persia terkemuka.

Sederet literatur Persia bernilai tinggi ditulis pada era itu. Nishapur, Herat, Ghazni dan Merv kota-kota penting di Khurasan menjadi pusat berkembangnya kebudayaan. Memasuki abad ke-16 M hingga 18, Khurasan berada dalam kekuasaan Dinasti Moghul. Di setiap periode, Khurasan selalu menjadi tempat yang penting.

Bangunan-bangunan bersejarah yang kini masih berdiri kokoh di Khurasan menjadi saksi kejayaan Khurasan di era kekhalifahan. Selain itu, naskahnaskah penting lainnya yang masih tersimpan dengan baik membuktikan bahwa Khurasan merupakan tempat yang penting bagi pengembangan ajaran Islam.

Misteri Dajjal di Segitiga Bermuda

 Misteri Dajjal di Segitiga Bermuda

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Syahruddin El-Fikri

Di Segitiga Bermuda, Dajjal bersama setan membangun kerajaan bersama untuk menghancurkan umat manusia.

Salah satu dari sekian banyak tanda-tanda kiamat, sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW adalah munculnya dajjal, pada suatu masa nanti. Dajjal adalah sosok makhluk bermata satu dan suka membuat dan menyebarkan fitnah. Ia juga mengaku sebagai Tuhan. Akibatnya, banyak umat manusia yang menjadi rusak akhlaknya karena teperdaya oleh tipu daya dan fitnah dajjal ini. Ia hanya mampu dikalahkan oleh Nabi Isa AS.

Karena itu, Rasulullah SAW senantiasa berdoa agar dijauhkan dari fitnah dajjal. ''Ya Allah, aku berlindung dari siksa neraka, azab kubur, fitnah hidup dan mati, serta fitnah dajjal.''

Dalam berbagai hadisnya, Rasulullah mengingatkan umatnya agar berhati-hati terhadap dajjal. ''Wahai sekalian manusia, sesungguhnya tidak ada fitnah di muka bumi ini yang lebih dahsyat daripada dajjal. Dan Allah SWT tidak mengutus seorang rasul atau nabi pun kecuali ia memperingatkan umatnya terhadap kemunculan dajjal. Aku adalah Nabi terakhir dan kamu sekalian adalah umat terakhir pula.

Dajjal pasti keluar dari tengah-tengah kalian. Jika ia keluar sedangkan aku ada di antara kalian, maka aku akan mengalahkannya dengan hujjah dan kemampuanku. Jika ia keluar setelah aku tiada maka setiap orang akan menjadi penolong dirinya sendiri untuk mengalahkan musuhnya. Allah adalah penggantiku bagi setiap Muslim.'' (HR Ibnu Majah, Ibn KHuzaimah dan al-Hakim).

Di manakah dajjal itu akan muncul, kapan kemunculannya, bagaimana rupanya, sehebat apa kekuatannya, berapa umurnya, dan di mana tinggalnya? Itulah berbagai pertanyaan yang sering diungkapkan banyak orang mengenai sosok dajjal tersebut.

Segitiga Bermuda
Menyebut kata 'Segitiga Bermuda', akan terbayang sebuah tempat yang senantiasa menyimpan berbagai macam misteri yang akan musnah atau hilangnya benda-benda yang berada atau melintas di atasnya. Sejumlah kapal terbang dan kapal laut secara tiba-tiba menghilang saat melintas di atasnya. Benarkah ada sesuatu di sana?

Berbagai penelitian telah dilakukan mengenai misteri Segitiga Bermuda. Ada yang menyatakan, lokasi tersebut memiliki medan magnet yang sangat tinggi. Sehingga, benda-benda yang mengandung logam, akan mudah tertarik ke pusatnya. Teori ini dikemukakan oleh Albert Einstein, dengan relativitasnya.

Ada pula yang menyatakan, hilangnya benda-benda (pesawat dan kapal laut) itu, karena memasuki gerbang waktu. Benda-benda itu memasuki wilayah gerbang waktu, sehingga ketika berada tepat di atasnya akan menghilang. Hilangnya itu, bisa kembali ke masa lampau atau muncul di masa depan.

Ada juga yang menyatakan, lenyapnya benda-benda itu karena mereka ditelan atau dibawa oleh UFO (Unidentified Flying Object) atau piring terbang. Sementara yang lain mengatakan, mereka hilang karena masuk dalam dunia paralel. Mereka ada di dunia yang berbeda dengan dunia yang sebelumnya. Dari empat teori di atas, ketiga teori yang terakhir disebut pula dengan teori mekanika kuantum.

Benarkah semua itu? Hingga saat ini, belum ada yang mampu menjelaskannya secara ilmiah. Berbagai hasil penelitian dan teori-teori di atas, seakan terbantahkan ketika hal itu tak mampu dibuktikan.

Lalu apakah yang menyebabkannya? Dajjal. Mungkin inilah jawaban terakhir yang dikemukakan sejumlah orang mengenai hilangnya pesawat dan kapal laut itu. Dajjal, --sosok makhluk terlaknat dan pembuat fitnah itu-- kini dituding melakukan semua itu karena persekongkolannya dengan setan.

Muhammad Isa Daud, penulis buku Dajjal Muncul di Segitiga Bermuda menjelaskan, musnahnya benda-benda itu disebabkan oleh si makhluk bermata satu alias dajjal. Menurutnya, di daerah Segitiga Bermuda (Bermuda Triangle) yang terletak di antara Florida (Amerika) di sebelah barat, Puerto Rico di sebelah timur, dan Pulau Bermuda di sebelah utara. Ada yang mengatakan, Florida berasal dari kata 'Flory' dan 'ida' yang berarti dukun yang ditunggu atau Tuhan masa depan.

Segitiga Bermuda terletak di Samudera Atlantik. Menurut Isa Daud, di situ terdapat sebuah pulau yang dikuasai oleh sekumpulan makhluk, yakni setan yang bekerja sama dengan dajjal untuk menghancurkan umat manusia. Nama pulau itu adalah Pulau Setan (bedakan dengan Pulau Setan di Guyana, Prancis, Amerika Selatan).

Di sekitar wilayah Segitiga Bermuda ini, sebagaimana diterangkan Isa Daud, dajjal bersama setan berkomplot dan terus berusaha menyebarkan misinya, melalui orang-orang kepercayaannya, sesama penyembah setan. Mereka mengajarinya dengan berbagai bujukan dan rayuan sehingga orang-orang terkesima dan takjub pada apa yang disuguhkan dan disajikannya. Maka, pada hari kiamat nanti, dari lokasi (Segitiga Bermuda) inilah, dajjal akan muncul dan melakukan fitnah secara besar-besaran kepada seluruh umat manusia. Ia akan membangga-banggakan cara-cara Yahudi karena dajjal dipercaya merupakan keturunan Yahudi.

Muhammad Isa Daud menegaskan, ia membuat kesimpulan di atas, bukan atas pendapatnya sendiri, melainkan berdasarkan sejumlah manuskrip kuno yang ia pelajari dari beberapa orang Muslim, yang tinggal di Palestina, Arab Saudi, Yaman, Swedia, Amerika, Inggris, Jerman, dan lainnya. Mereka itulah, ungkap Isa Daud, yang memiliki data mencengangkan dan belum pernah dipublikasikan oleh orang lain. Wa Allahu A'lam.

Benarkah Dajjal Berusia 4.000 Tahun?

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Syahruddin El-Fikri

Konon, sebelum sampai di Pulau Bermuda atau tinggal di daerah Segitiga Bermuda ini, dajjal dahulunya tinggal di sebuah pulau di laut Yaman. Awalnya, ia lahir di sebuah keluarga penyembah berhala di zaman setelah Sam bin Nuh. Ia dilahirkan di daerah sekitar Palestina di dekat daerah Sodom dan Gomorah (umat kaum Luth) dalam keadaan cacat di matanya.

Sejak kecil, si anak (dajjal) ini suka menyusahkan orang tuanya. Tidur selama sekitar empat tahun lamanya dan tidak bisa berjalan. Suatu hari, di tengah lelapnya tidur, si anak terbangun dan mendatangi berhala sesembahan kedua orang tuanya dan tidur lagi di pangkuan berhala itu. Saat itulah orang tuanya mengumumkan kalau anaknya itu merupakan anak Tuhan.

Orang-orang yang sebelumnya mendengar bahwa anaknya itu tidak bisa berjalan, spontan menertawakan dan mencemoohnya. Sebagian lainnya, ada yang mengambil air berkah.

Oleh banyak orang, si orang tua di laporkan ke hakim dan diputuskan keduanya harus berpisah dengan anaknya. Anaknya ditahan di pengadilan atau istana sedangkan orang tua di bagian lain penjara. Namun, saat terjadi azab kepada penduduk Sodom dan Gomorah, anak ini diselamatkan oleh Malaikat Jibril ke sebuah pulau yang tidak berpenghuni di laut Yaman. Jarak laut Yaman ini membutuhkan perjalanan yang sangat lama dan jika ingin ke pulau tersebut harus melewati terjangan ombak dahsyat. Jika tak hati-hati maka akan tenggelam. Selama di pulau itu, Jibril menugaskan seekor binatang yang badannya dipenuhi bulu lebat untuk merawat dan membantu si manusia cacat itu.

Singkat cerita, ketika sudah semakin besar, ia memutuskan keluar dari pulau itu dan mengembara ke mana saja. Sampai suatu ketika ia bertemu dengan Ibrahim, Musa, dan Nabi Isa.

Dalam pertemuannya dengan Nabi Musa, ia awalnya menjadi pengikutnya. Namun, di balik pertemuan itu ia memiliki maksud jahat. Karena kekagumannya pada Musa, ia menggunakan nama Musa. Namun, untuk membedakan ia dengan Musa dari Mesir (Nabi Musa--Red), maka ia memakai nama Musa Samiri alias Musa dari Samirah, tempat lahirnya sewaktu masih di Palestina.

Karena perbuatannya mengajak Bani Israil membuat patung anak lembu maka Musa AS lalu mengusir Samiri. (Lihat QS Thaha [20]: 97). Ke mana perginya Samiri (dajjal) ini setelah diusir Musa, tidak ada keterangan lanjutan.

Muhammad Isa Daud menyebutkan, sejak diusir itu, Samiri mengembara lagi ke berbagai tempat. Ia terus belajar mengenai sikap umat manusia dan mencari celah untuk menjerumuskannya.

Dan beberapa saat sebelum kelahiran Rasulullah SAW, dajjal kembali ke pulau tempat ia dibesarkan oleh seekor makhluk berbulu tebal tersebut. Saat mendarat itulah, oleh makhluk tersebut, dajjal disuruh berjalan ke bagian dalam gua. Saat membelakangi dinding gua itulah, dajjal kemudian terpasung. Makhluk tersebut menyatakan, ikatan itu hanya akan bisa lepas, saat waktunya telah tiba. Dalam penuturan Isa Daud, dajjal terpasung selama lebih kurang 63 tahun. Sama dengan usia Rasulullah SAW.

Setelah bebas, dajjal kembali mengembara. Puncaknya, ia pergi ke Segitiga Bermuda dan akhirnya bertemu dengan setan. Ia sangat diagungkan oleh setan dan keduanya membuat perjanjian bersama untuk menghancurkan umat manusia dan memalingkannya dari menyembah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

Berdasarkan keterangan Muhammad Isa Daud, hingga hari ini dajjal masih hidup. Kendati usianya sudah lebih dari 4.000 tahun, tetapi fisiknya masih tetap muda dan tak ada yang bisa menandingi kekuatannya hingga turunnya Isa Al-Masih, putra Maryam, yang akan membunuhnya. Usianya itu bila dikonversikan dengan Nabi Ibrahim AS, sebagaimana pendapat Sami bin Abdullah Al-Maghluts, bahwa Nabi Ibrahim hidup pada tahun 1997-1822 SM.

Panjangnya usia dajjal ini, karena ia merupakan satu dari tiga orang yang muntazhar (ditangguhkan) atau dipanjangkan umurnya, yakni setan, Nabi Isa AS, dan dajjal. Dan hanya Nabi Isa AS yang mampu mengalahkan dan membunuh dajjal. Wa Allahu A'lam.

Dajjal, Si Pembuat Kerusakan di Muka Bumi


REPUBLIKA.CO.ID, Alquran memang tidak menyebut kata Dajjal baik secara eksplisit maupun implisit. Namun, sebagian ulama ada yang berpendapat Dajal dalam Alquran seringkali disebut dengan Ya'juj dan Ma'juj. Tentang hal ini, Alquran menjelaskan dalam Surat Al-Kahfi ayat 94: Mereka berkata, 'Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu supaya kamu membuat dinding antara kamu dan mereka'.

Dalam Alquran dan Terjemahnya terbitan Departemen Agama, Ya'juj dan Ma'juj disebutkan sebagai dua bangsa yang membuat kerusakan di muka bumi, seperti yang telah dilakukan oleh bangsa Tartar dan Mongol dahulu. Bila Alquran tidak menjelaskan secara tegas dan pasti, bukan berarti Dajjal itu tidak ada. Beberapa Hadis Rasulullah yang diyakini kesahihannya secara jelas melengkapi apa yang disitir sebagai Ya'juj dan Ma'juj dalam Surat Al-Kahfi tersebut.

Misalnya Hadis yang diriwayatkan Muttafaq 'Alaih (Bukhari-Muslim) dari Huzaifah yang menyebutkan: Tidak seorang Nabi pun yang diutus Allah melainkan dia telah memperingatkan umatnya perkara Dajjal. Sesungguhnya Dajal itu bermata sebelah, yang tidak dapat digunakan adalah yang sebelah kanan. Dalam Hadis lain dikatakan: Dajjal itu akan datang membawa api dan air, apa yang dilihat orang banyak sebagai api sebenarnya adalah air, dan yang dilihat air adalah api.

Menurut pakar tafsir Alquran Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya Quraish Shihab Menjawab, bahwa Hadis-hadis tentang Dajal cukup banyak antara lain diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim seperti disebutkan di atas. Dalam beberapa riwayat dikemukakan juga bahwa Rasul SAW bersabda: Tidak akan bangkit kiamat sebelum datang sekitar 30 orang pembohong-pembohong yakni Dajal-Dajal, semua mengaku sebagai Rasul Allah (HR At-Tirmidzi dan An-Nasai melalui Abu Hurairah).

Quraish berpendapat, Dajal yang terbesar adalah yang akan datang menjelang hari kiamat. Mengutip pakar Hadis Ibnu Hajar dalam bukunya Fath Albary --berdasar sekian banyak riwayat yang bersumber dari sahabat Nabi Abu Said Alkhudry --, ia menyebut sekian banyak sifat dan keadaannya, antara lain bahwa Dajal adalah seorang Yahudi, tidak memiliki anak, tidak dapat masuk ke Makkah dan Madinah (HR Muslim), buta sebelah, mata sebelah kirinya berkilau bagaikan bintang kejora. Ia akan bangkit dari timur. Ada riwayat yang menyatakan dari Khurasan ada lagi dari Asfahan yaitu daerah Iran sekarang (HR Muslim).

Pada mulanya, demikian Quraish Shihab, Dajal menampakkan kesalehan, kemudian mengaku Nabi dan terakhir mengaku sebagai Tuhan. ''Memang menurut riwayat ia (Dajal--red) memiliki sekian keistimewaan yang dapat mengelabui manusia, tetapi yang menggunakan pikirannya tidak akan terpedaya apalagi mengakuinya sebagai Tuhan atau nabi,'' tulis Quraish.

Ia menambahkan, kelompok Ahl Sunnah, lebih-lebih pakar Hadis mengakui adanya apa yang dinamai Dajal dan bahwa ia adalah satu sosok manusia yang menjerumuskan umat Islam, tetapi kelompok Mu'tazilah yang cenderung sangat rasional menolak kebenaran Hadis-hadis itu.


Dikutip dari Dialog Jumat Edisi 25 April 2003

Dajjal: Dari Zionisme Hingga Dolar?

Dajjal: Dari Zionisme Hingga Dolar?

REPUBLIKA.CO.ID, Di era modern saat ini, Dajjal muncul dalam berbagai versinya. Salah satunya yang paling jelas adalah dalam bentuk kekuatan dan gerakan zionisme internasional. Seperti disebutkan dalam buku Dajjal dan Simbol Setan karya dai kondang KH Toto Tasmara, sebagai bentuk dan ajaran palsu lagi sesat untuk menghancurkan semua agama yang ada hingga mereka masuk dalam perangkap jaringan konspirasi zionisme internasional, Dajjal telah ada sejak dahulu kala.

Dalam pandangan Toto, dendam sejarah kaum Yahudi yang selalu menjadi bulan-bulanan bangsa-bangsa yang menjajahnya sampai pada saat diaspora (tercerai berai di berbagai negara), menyebabkan mereka tak henti-hentinya mencari jalan untuk membalas kekalahannya untuk kembali bersatu.

Sejauh mana keterkaitan antara Dajal dan Yahudi, yang kini antara lain direpresentasikan oleh gerakan zionisme internasional, dijelaskan dalam dua Hadis Rasulullah berikut: Maka apabila Dajal sudah terbunuh, orang Yahudi pun menjadi hancur lebur barisannya, yakni sama-sama berperang untuk membela Dajjal dan jumlahnya mencapai puluhan ribu. (HR Imam Ibnu Majjah). Hadis itu mengisyaratkan bahwa Dajjal dan para pengikutnya adalah kaum Yahudi itu sendiri.

Dalam perjalannya kemudian, lanjut Toto, gerakan Dajal dikembangkan sebagai agama dan ritual Freemason. Gerakan ini disebut Freemasonry, salah satu sayap gerakan zaionisme internasional dewasa ini yang membungkus gerakannya dalam bentuk aktifitas sosial dan kepedulian pada masa depan manusia. Freemason sebenarnya telah lama diketahui pihak gereja Katolik Roma. Kala itu, gerakan ini dengan gencarnya menyerang eksistensi gereja hingga mereka mengeluarkan fatwa pengucilan terhadap para anggota Freemason.

Para anggota gerakan Freemason pun beragam. Selain pejabat penting dan tokoh internasional, beberapa presiden Amerika juga tercatat pernah menjadi anggota gerakan ini. Antara lain, George Washington, James Monroe, Andrew Jackson, James Knox Polk, James Buchanan, William McKinley, Theodore Rosevelt, William H. Taft, Warren G. Harding, Harry S. Truman, dan Gerald Ford. Sebagai gerakan kaum Yahudi, Freemason menyebarkan agenda terselubungnya yang dibungkus dalam ajaran menyesatkan, yakni aliansi Mistik Setanisme, yang secara global dipahami sebagai paham pemujaan terhadap materi dan mengingkari eksistensi Tuhan dan ajaran agama.

Sejauh ini, seperti dikutip Toto Tasmara, paham Setanisme dapat diketahui melalui ajaran-ajarannya, antara lain; Setanisme adalah bentuk lain dari pencampuran segala ajaran mistik, penyembahan terhadap dewa-dewa kegelapan yang kemudian dikemas dalam penalaran rasional; ajaran Setanisme zionis juga diperlambangkan melalui mata uang dolar AS, yakni In God We Trust One yang bermakna bahwa dewa Lucifer sebagai Jehovah (the son of God) harus diwujudkan cita-citanya membangun satu tatanan dunia baru yang sekuler dengan mengambil tuhan yang satu, yakni 'materi'.

Dalam kenyataannya, tata dunia baru kini dibangun dan direpresentasikan oleh Amerika Serikat. ''Tak lebih dan tak kurang, pemerintah AS telah melambangkan Dajjal Besar, seperti dilambangkan melalui monumen Washington sebagai setan besar, sementara Israel adalah 'setan' kecil,'' tulis Toto.

Dikutip dari Koran Republika edisi Jumat, 25 April 2003.

Hebatnya ilmu Allah


“Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: ‘Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya’.” (QS. an-Naml 27:39)

“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: ‘Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip’. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: ‘ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia’.” (QS. an-Naml 27:40)

Dua ayat di atas adalah maksud dari firman Allah SWT dalam surah an-Naml. Begini kisahnya:

Nabi Sulaiman (a.s.) adalah salah seorang hamba Allah SWT yang terpilih di antara hamba-hamba Nya yang lain. Baginda beri kelebihan hikmah dan ilmu dengan dikurniakan mukjizat yang besar dari Allah SWT. Antara mukjizat yang tersebut ialah boleh memahami dan berinteraksi dengan jin dan haiwan. Allah SWT juga telah menundukkan angin kencang untuk membawa Nabi Sulaiman (a.s.) ke sesuatu tempat yang diberkati Nya, menundukkan segolongan syaitan dan segolongan jin supaya berkhidmat kepada Nabi Sulaiman (a.s.). Semuanya berlaku dengan kekuasaan dan keizinan dari Allah SWT.

Pada suatu masa dahulu, Nabi Sulaiman (a.s.) dengan kekuasaan Tuhan telah menghimpunkan bala tenteranya yang terdiri dari golongan jin, manusia dan burung-burung. Maka berhimpun lah mereka mengikut tertib dalam barisan masing-masing.

Ketika memeriksa barisan tenteranya dari kalangan burung-burung, baginda menyedari bahawa Burung Hud-hud tidak hadir dalam perbarisan. Baginda berkata bahawa Hud-hud akan dikenakan hukuman atau disembelih sekiranya ketidakhadirannya tanpa alasan yang jelas.

Tidak lama kemudian Hud-hud pun datang dengan membawa suatu berita penting dari negeri Saba yang didakwa Hud-hud, baginda sendiri pun belum mendengarnya. Hud-hud pun bercerita lah mengenai Puteri Balqis, pemerintah negeri Saba yang dianugerahi segala apa yang dihajati serta mempunyai singahsana yang besar. Hud-hud juga melaporkan bahawa puteri tersebut dan rakyat di bawah naungannya menyekutukan Allah SWT lalu menyembah matahari kerana mereka telah disesatkan oleh syaitan.

Baginda seraya bertitah kepada Hud-hud, “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan membawa suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.”

Maka Hud-hud pun melakukan sebagaimana yang dititahkan oleh Nabi Sulaiman (a.s.) dengan membawa sepucuk surat lalu dijatuhkan kepada Puteri Balqis. Kemudiannya Hud-hud berpaling dan mencuri dengar perbualan puteri dengan para pembesarnya.

Lalu Puteri Balqis berkata, “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya: ‘Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahawa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang berserah diri ‘.”

Puteri Balqis kemudiannya meminta nasihat dari para pembesar negeri dalam membuat keputusan bagi menentukan tindakan yang sepatutnya diambil. Namun para pembesarnya menyerahkan pertimbangan tersebut di tangan puteri sendiri dengan berkata, “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”.

Puteri seraya berkata kepada para pembesar, “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, nescaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.”

Hud-hud pun pulang melaporkan kepada Nabi Sulaiman (a.s.) tentang apa yang telah didengarinya. Utusan dari Puteri Balqis pun tiba kepada Nabi Sulaiman (a.s.). Baginda kemudiannya membalas utusan dengan mesej berbunyi: “Apakah kamu menolong aku dengan harta? Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina”.

Setelah utusan tersebut berangkat ke negeri Saba, Nabi Sulaiman (a.s.) berbincang dengan para pembesar baginda mengenai niatnya untuk membuatkan kerajaan negeri Saba menyerah diri dan seterusnya menerima Islam. Baginda telah mempunyai rancangan yang bijaksana bagaimana hendak membuatkan Puteri Balqis mengaku kalah dengan bukti kebesaran Allah SWT.

“Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgahsananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?”, tanya baginda.

Pertanyaan tersebut telah disahut oleh sejenis jin yang cerdik bernama Ifrit yang menjawab, “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercayai”.

Jin Ifrit menganggap dirinya benar-benar kuat untuk membawa singgahsana Puteri Balqis dalam kadar yang pantas iaitu sebelum pun nabi Sulaiman (a.s.) berdiri dari keadaan duduknya.
Tiba-tiba seorang hamba Allah dari kalangan manusia yang dikurnia ilmu Allah SWT dari al-Kitab pula menyahut, “Aku akan membawa singgahsana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Sebelum sempat mata Nabi Sulaiman (a.s.) berkedip, maka tersergamlah singgahsana Puteri Balqis di hadapan baginda, seraya baginda berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencuba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

Singgahsana tersebut kemudiannya diubah suai untuk menguji samada Puteri Balqis masih dapat mengenali singgahsananya sendiri atau sebaliknya.

Puteri Balqis pun berangkat tiba menemui Nabi Sulaiman (a.s.). Setibanya di perkarangan, baginda pun bertanya kepada puteri, “Serupa inikah singgahsanamu?”.
Puteri Balqis pun menjawab, “Seakan-akan singgahsana ini singgahsanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.”. Maka puteri pun mengaku kalah dan menyerah diri. Benarlah puteri yang selama ini menyembah matahari telah terpedaya dengan hasutan syaitan yang menghalangnya dari menerima petunjuk.

Kemudiannya Puteri Balqis dijemput pula masuk ke dalam istana Nabi Sulaiman (a.s.). Maka tatkala Puteri Balqis melihat lantai istana itu, terus disangkanya kolam air yang besar lalu disingkapkannya kain secara sehingga menampakkan kedua betisnya dan menyebabkannya terasa malu. Berkatalah Nabi Sulaiman (a.s.): “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat lalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”.

Puteri Balqis pun menerima Islam dengan berserah kepada Allah SWT dan mengakui bahawa Allah itu Tuhan semesta alam.

Begitulah kisah yang membuktikan kebesaran Allah SWT yang telah mengurniakan ilmu-ilmu Nya kepada dua orang hamba pilihan Nya iaitu Nabi Sulaiman (a.s.) dan seorang lagi pengamal ilmu dari al-Kitab sehinggakan Puteri Balqis dan rakyatnya keluar dari kekafiran.

Sekian.

Nota:

1. Kisah ini telah saya ambil dari al-Quran: QS. an-Naml 27: ayat 16 – 44; QS. al-Anbiya 21: ayat 78 – 82 dan QS. Saba 34: ayat 15 – 18.

2. Pengamal ilmu dari al-Kitab yang mengangkat singgahsana tersebut (dengan izin Allah SWT) di sebut namanya sebagai Asif ibn Barakhia atau Asif ibn al-Birkhia oleh beberapa ahli hadis seperti Imam Jaafar al-Sadiq dan Imam Muhammad al-Baqir manakala ilmu tersebut juga dikenali sebagai Tayy al-Arḍh. wallahu a’lam.

3. Penemuan arkeologi terkini di kawasan Mahram Bilqis (Mahram Bilkees, “Temple of the Moon Deity”) di Mareb, Yemen menguatkan lagi hipotesis saintis bahawa Puteri Balqis telah memerintah di bahagian Selatan Arab, dengan pembuktian yang mencadangkan bahawa kawasan tersebut ialah ibu negeri Kerajaan Balqis. Sepasukan penyelidik dari American Foundation for the Study of Man (AFSM) yang diketuai oleh pakar arkeologi, Dr. Bill Glanzman (University of Calgary), telah cuba untuk merungkai rahsia pusat penyembahan matahari yang berusia 3,000 tahun tersebut di Yemen.


sumber:http://bambies.wordpress.com/2010/04/03/hebatnya-ilmu-allah/

Isra’ Mi’raj Tidak Masuk Akal?


Oleh: Dr. Adian Husaini
DALAM sebuah acara peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw, di Jakarta, pembawa acara menyampaikan narasi, bahwa Isra’ Mi’raj adalah adalah sebuah peristiwa yang harus diterima dengan iman dan tidak bisa diterima dengan akal, karena peristiwa itu memang tidak masuk akal. Mungkin, kita sering mendengar ungkapan serupa; bahwa hal-hal yang ghaib harus diterima dengan iman, bukan dengan akal. Benarkah pernyataan seperti itu?

Ketika itu, saya menguraikan, bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj memang tidak masuk di akalnya Abu Jahal. Tetapi, peristiwa tersebut masuk di akalnya Abu Bakar ash-Shiddiq r.a.. Abu Jahal bahkan menjadikan Isra’ Mi’raj sebagai senjata untuk menarik kembali orang-orang Quraisy dari keimanan Islam. Dan memang, sejumlah orang akhirnya keluar dari Islam, karena menganggap cerita Isra’ Mi’raj sebagai kebohongan dan tidak masuk akal.

Tetapi, provokasi Abu Jahal dan beberapa tokoh kafir Quraisy tidak ‘mempan’ untuk membatalkan keimanan Abu Bakar ash-Shiddiq. Beliau cukup berlogika sederhana: Jika yang menyampaikan berita itu adalah Muhammad saw, pasti cerita itu benar adanya. Bahkan, lebih dari itu pun Abu Bakar ash-Shiddiq percaya. Jadi, Isra’ Mi’raj sangat masuk di akalnya Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, dan tidak masuk pada akalnya akalnya Abu Jahal.

Persoalan akal mendapatkan kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Orang dibebani kewajiban menjalankan syariat jika dia sudah “mukallaf”, artinya, dia sudah baligh (dewasa) dan mempunyai akal. Jika hilang akalnya, maka dia bebas syariat. Itulah karunia Allah! Manusia bisa saja menuntut bebas dari melaksanakan syariat Allah, asalkan mereka sudah kehilangan akal.

Memang, dengan akal-lah manusia dikatakan sebagai manusia. Laulal aqlu la-kaanal-insaanu kal-bahaaim. Begitu sebuah ungkapan Arab yang bermakna: tanpa akal, maka manusia ibarat binatang. Manusia menjadi manusia, karena akalnya, bukan karena jasadnya. Lihatlah, seorang ahli fisika Inggris Stephen Hawking! Meskipun tubuhnya sudah lemah lunglai, terhempas di kursi roda, tanpa bisa berkata apa-apa, jalan pikirannya tetap diperhatikan oleh dunia. Meskipun dia sekular, tetapi dia tetap dipandang sebagai manusia. Akalnya masih ada!

Bandingkan dengan seorang yang masih gagah perkasa atau cantik jelita, jika hilang akalnya, maka hilang pula nilainya sebagai manusia. Karena itu, kita melihat ada hal yang kontradiktif pada kaum sekular yang memandang manusia hanya dari segi fisiknya saja. Tengoklah buku-buku sejarah atau Biologi yang diajarkan kepada anak-anak kita! Tatkala membahas tentang asal-usul manusia, mereka hanya berbicara tentang sejarah fisik atau tubuh manusia. Yang mereka teliti hanya sejarah tulang belulang. Mereka hanya meneliti fosil, karena hanya itu yang bisa mereka lihat.

Mereka tidak mengakui adanya RUH yang justru merupakan inti dari manusia. Sedangkan jasad adalah “tunggangan” RUH. Saat bicara tentang sejarah manusia, maka harusnya mereka sampai pada satu momen penting dari sejarah manusia, yaitu tatkala manusia membuat perjanjian dengan Allah di alam arwah. Ketika itu, Allah bertanya: “Apakah Aku ini Tuhanmu?” maka serentak manusia menjawab: “Benar, kami menjadi saksi!” (QS 7:172).

Itulah sebuah momen penting dari sejarah manusia. Bukan hanya menelusuri sejarah tulang belulang. Sayangnya, kaum sekularis dan materialis tidak mengakui informasi yang berasal dari wahyu sebagai “Ilmu”. Bagi mereka informasi wahyu dianggap sebagai dogma, yang tidak bisa diilmiahkan. Informasi tentang RUH, alam akhirat, dan alam ghaib lainnya, tidak dikategorikan sebagai ilmu. Karena itulah, dalam struktur keilmuan yang banyak dipelajari di sekolah-sekolah atau Perguruan Tinggi sekarang, yang dimasukkan dalam kategori “sains” hanyalah hal-hal yang bisa diindera. Mereka tidak mengakui adanya Sains tentang akhirat, sains tentang sorga dan neraka.

Padahal, dalam Islam, informasi tentang sifat-sifat Allah, tentang Akhirat, adanya pahala dan dosa, tentang berkah, dan sebagainya, merupakan bagian dari Ilmu! Informasi tentang kenabian Muhammad saw, bahwa beliau menerima wahyu dari Allah SWT, adalah merupakan ILMU. Dalam QS 3:19 disebutkan, bahwa kaum ahlul kitab tidak berselisih paham kecuali setelah datangnya ILMU pada mereka, karena sikap iri dan dengki. Jadi, bukti kenabian Muhammad saw adalah suatu ILMU, yakni suatu informasi yang pasti kebenarannya.

Jadi, informasi tentang hal-hal ghaib adalah ILMU dan masuk akal. Sebab, informasi itu dibawa oleh manusia-manusia yang terpercaya. Karena sumber informasinya adalah pasti (khabar shadiq/true report), makan nilai informasi itu pun menjadi pasti pula. Sebenarnya, fenomena semacam ini terjadi dalam kehidupan manusia sehari-hari. Kita percaya, bahwa kedua orang tua kita sekarang ini, benar-benar orang tua kita, juga berdasarkan informasi dari orang-orang yang kita percayai. Karena semua orang yang kita percayai memberikan informasi yang sama – bahwa mereka adalah orang tua kita – maka kita pun percayai, meskipun kita tidak melakukan tes golongan darah atau tes DNA.

Mungkin ada mahasiswa yang berlagak kritis dan rasional dalam segala hal. Dia mau mengkritisi semua hal. Katanya, “Saya hanya percaya kepada hal-hal yang bisa diindera secara langsung atau yang rasional. Di luar itu, saya tidak percaya!”

Kita jawab: “Anda pun tidak kritis pada diri Anda sendiri. Coba tanyakan dengan cara yang sesopan mungkin kepada kedua orang tua Anda, apa bukti ilmiah yang empiris dan rasional bahwa Anda benar-benar anak mereka?”

Seorang mahasiswa tidak akan pernah menjadi sarjana, jika dia bersikap kritis. Saat dosennya menyatakan, bahwa ini adalah rumus Phytagoras atau hukum ini ciptaan Archimides, maka si mahasiswa yang mengaku kritis tadi, harusnya bertanya kepada dosennya, bagaimana Bapak tahu, bahwa rumus itu berasal dari Phytagoras? Bagaimana membuktikannya? Apakah Bapak melihat sendiri? Kenapa Bapak percaya begitu saja.

Saat seorang dosen atau guru fisika menerangkan bahwa kecepatan cahaya adalah 270 ribu sekian km/detik, maka si mahasiswa harusnya bertanya, “Bagaimana Bapak bisa mengatakan seperti itu. Apa buktinya?”

Syahdan, dulu ada seorang ilmuwan di Indonesia yang terkenal sangat rasional dan “Western oriented”. Dia hanya mau menerima hal-hal yang empiris dan rasional. Suatu ketika, sang ilmuwan ini akan balik kampong dan menaiki Kapal Laut. Maka, temannya, yang seorang cendekiawan Muslim mengingatkan dia: “Jika kamu rasional, harusnya kamu tidak naik kapal, tetapi berenang. Sebab, ketika naik kapal, kamu sudah tidak rasional, karena kamu percaya saja kepada nakhoda atau petugas kapal yang kamu tidak kenal sama mereka!”

Tatkala kita menaiki pesawat terbang, kita dipaksa menjadi tidak rasional dan tidak kritis.Saat diumumkan, bahwa pesawat ini akan menuju suatu kota dengan ketinggian sekian, dengan pilot Si Fulan, maka kita pun percaya begitu saja! Padahal, kita tidak kenal sama sekali dengan para awak pesawat, tidak mengecek langsung, apakah si pilot benar-benar pilot atau pelawak.

Itulah anehnya manusia. Kadangkala, mereka percaya kepada dukun yang jelas-jelas mengaku bodho, percaya kepada ilmuwan fosil yang belum tentu jujur, percaya kepada pramugari pesawat yang sama sekali tidak dikenalnya. Tetai, ajaibnya, mereka tidak percaya kepada seorang “manusia” yang kejujurannya diakui oleh bangsanya, diakui oleh kawan maupun lawannya. Bahkan, sejak umur 25 tahun, kaumnya sudah member gelar istimewa “al-Amin”, manusia yang terpercaya.

Jika dukun yang menamakan dirinya sebagai orang bodho bisa dipercaya, mengapa kita tidak percaya kepada Nabi Muhammad saw? Itulah akal Abu Bakar ash-Shiddiq r.a., yaitu akal yang jernih; akal yang sanggup mendudukkan sesuatu pada tempatnya. Saat berita Isra’ Mi’raj itu tiba padanya, maka Sayyidina Abu Bakar cukup menggunakan logika yang sederhana: Jika yang mengatakan itu adalah Muhammad saw, pasti itu benar adanya!

Ada lagi sebagian kalangan yang berlagak kiritis kepada Nabi Muhammad saw, kritis kepada sahabat Nabi dan para ulama terkemuka. “Kita harus kiritis!” katanya. Bahkan, masih kata dia lagi, “Kita harus berani kritis terhadap pikiran kita sendiri!”

Dalam acara bedah Novel Kemi di IAIN Syekh Nurjati Cirebon, 28 Juni 2011, ada seorang mahasiswa bertanya kepada saya: Apa definisi iman, kafir, dan sebagainya?”

Tentu saja, saya cukup keheranan. Bagaimana seorang yang belajar agama Islam pada level perguruan tinggi masih belum tahu, ada definisi iman dan kafir. Saya jawab, “Kenapa kita tidak merujuk saja kepada pendapat para ulama yang mu’tabarah tentang definisi-definisi tersebut? Lihat saja pendapat Imam al-Syafii, Imam al-Ghazali, dan sebagainya!”

Si mahasiswa tadi sebenarnya sedang menghadapi krisis otoritas. Dia menolak otoritas para ulama Islam, tetapi mengakui otoritas Nasr Hamid Abu Zaid, dan para orientalis. Dia lebih percaya kepada pendapat orientalis ketimbang pendapat ulama. Padahal, setiap bidang ilmu selalu menempatkan otoritas-otoritas tertentu. JIka kita belajar Fisika, maka kita diminta menerima otoritas keilmuan yang dimiliki ilmuwan-ilmuwan besar di bidang Fisika. Sama halnya dengan otoritas di bidang ilmu ekonomi, ilmu Sosiologi, dan sebagainya. Ironisnya, saat ini, otoritas keilmuan di Perguruan Tinggi kadangkala diletakkan kepada gelar formal, dan bukan pada kualitas keilmuan seseorang. Meskipun bodoh dan kurang ilmu, tetapi karena sudah bergelar professor maka dia diberikan otoritas keilmuan di bidangnya.

Jika mahasiswa tidak mengakui otoritas keilmuan seseorang, maka dia tidak akan pernah menjadi sarjana, sebab saat menyusun skripsi, tesis, atau disertasi, pasti dia mengutip sana-sini, pendapat-pendapat dari orang-orang yang dianggap mempunyai otoritas tertentu di bidangnya. Saat membahas tafsir UUD 1945, tentu kita lebih percaya kepada tafsiran Prof. Dr. Jimly ash-Shiddiqy dibandingkan tafsiran Inul atau Thukul.

Untuk menundukkan akal manusia agar menerima kebenaran misi kenabian, maka Allah memberikan bukti-bukti nyata berupa mu’jizat pada para utusan-Nya. Dengan itu, diharapkan, akal manusia akan menerima kebenaran yang berasal dari Allah, yang merupakan sumber kebenaran. Jadi, berita tentang misi kenabian adalah suatu Ilmu dan ilmiah. Adalah ironis, jika berita kenabian tidak dianggap sebagai ILMU, sedangkan informasi tentang kehidupan di bumi jutaan tahun lalu, dianggap sebagai ILMU.

Pintu masuk seorang menjadi Muslim adalah “syahadat”: saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Konsekuensinya, seorang Muslim pasti percaya kepada apa pun yang dikatakan oleh Nabi Muhammad saw. Allah adalah sumber ILMU. Allah yang mengajarkan Ilmu kepada manusia, baik yang disampaikan melalui para nabinya, maupun yang diberikan kepada manusia dalam bentuk ilham, dan sebagainya.

Yang jelas, tatkala mendapatkan ILMU, maka kita yakin, bahwa Ilmu itu adalah anugerah Allah. Ilmu adalah karunia Allah. Meskipun manusia bekerja keras, jika Allah tidak menghendaki dia meraih ilmu, maka suatu ilmu tidak akan sampai padanya. Bertemunya upaya manusia dan anugerah Allah akan datangnya suatu makna pada diri manusia, itulah yang dikatakan Prof Syed Naquib al-Attas sebagai suatu Ilmu. Di sini terpadu unsur upaya manusia, sebagai syariat untuk meraih ilmu. Tetapi, pada sisi lain, bagaimana pun, keberhasilan manusia untuk meraih satu ilmu tertentu adalah merupakan anugerah Allah SWT.

Jadi, seorang Muslim adalah seorang yang sangat menghargai akalnya, dan mampu menempatkan akal manusia pada tempatnya. Akal adalah anugerah Allah. Akal digunakan untuk berpikir yang tujuan tertingginya adalah untuk mengenal Sang Pencipta (ma’rifatullah). Pengakuan akan ke-Tuhanan Allah SWT dan kenabian Muhammad saw itulah yang membedakan akal orang mukmin dengan akal orang kafir. Orang mukmin mengarahkan akalnya untuk memahami ayat-ayat Allah.

Orang mukmin paham akan tujuan dan makna hidup yang sebenarnya. Dengan akalnya, orang mukmin paham, bahwa kebahagiaan tertinggi di dunia ini adalah mengenal dan berzikir kepada Allah; bukan menuruti semua tuntutan syahwat. Dengan akalnya, manusia dapat mengenal Sang Pencipta. Dengan akalnya, manusia dapat memahami cara-cara menyembah Sang Pencipta, sebagaimana diajarkan oleh utusan Allah.

Jadi, meskipun sama-sama berakal, ada perbedaan yang mendasar antara akal Abu Bakar ash-Shiddiq dan akal Abu Jahal. Akal Abu Bakar adalah akal yang jernih, akal yang benar (aqlun shahihun), sedangkan akal Abu Jahal adalah akal yang salah, akal yang buruk, akal yang tidak mampu mengantarkan manusia kepada pengenalan Sang Pencipta. Wallahu a’lam bil-shawab. (***).


sumber:http://bambies.wordpress.com/2011/08/25/isra%E2%80%99-mi%E2%80%99raj-tidak-masuk-akal/

Agama Albert Einstein, Seorang Yahudi Ataukah Muslim?


Ilmuwan besar dunia Albert Einstein sejak lama diduga menganut Judaisme, agama kaum Yahudi. Namun, ada klaim yang menyatakan ilmuwan nyentrik itu sebenarnya adalah Muslim. Mana yang benar? Klaim yang beredar di blog-blog Tanah Air ini menyebutkan adanya dokumen rahasia yang berisi surat-surat Einsten. Surat tersebut menunjukkan, ilmuwan kelahiran Jerman penemu teori relativitas ini, menganut Islam.

Einstein menjelaskan, Islam lebih utama ketimbang agama lain. Serta menyebutnya paling sempurna dan rasional. Ia bahkan menyatakan seluruh dunia takkan mampu membuatnya kecewa terhadap Islam maupun meragukannya.

Dalam makalah terakhirnya, ‘Die Erklarung’ (Deklarasi) yang ditulis pada tahun tersebut di Amerika Serikat (AS), Einstein dalam bahasa Jerman menelaah teori relativitas dalam ayat-ayat Al Quran. Einstein menyebut penjelasan Isra Miraj tentang perjalanan Mi’raj jasmani Nabi Muhammad ke langit dan alam malaikat yang hanya dilakukan dalam beberapa detik, sebagai penjelasan yang paling bernilai.

Ada sebuah hadis yang disadur Einstein dan menjadi andalannya. Yakni :

diriwayatkan oleh Allamah Majlisi tentang Mi’raj jasmani Rasulullah SAW. “Ketika terangkat dari tanah, pakaian atau kaki Nabi menyentuh sebuah berisi air yang menyebabkan air tumpah.” “Setelah Nabi kembali dari mikraj jasmani, setelah melalui berbagai zaman, beliau melihat air masih dalam keadaan tumpah di atas tanah.”

Einstein melihat hadis ini sebagai khazanah keilmuan yang berharga.

Terutama karena menjelaskan keilmuan dalam relativitas waktu. Menurut Einstein, formula matematika kebangkitan jasmani, berbanding terbalik dengan formula terkenal relativitas materi dan energi. Yakni E=M.C >> M=E:C. Artinya, sekalipun badan kita berubah menjadi energi ia dapat kembali hidup seperti semula. Naskah asli risalah ini tersembunyi dalam safety box rahasia di London, Inggris, di tempat penyimpanan Prof. Ibrahim Mahdavi, dengan alasan keamanan.

Risalah ini dibeli Mahdavi seharga US$3 juta dari pedagang Yahudi. Ia juga dibantu seseorang yang bekerja di pabrik mobil Mercedes Benz. Tulisan tangan Einstein di buku kecil itu telah dicek lewat komputer dan dibuktikan keasilannya oleh pakar manuskrip. Perdebatan agama Einstein telah sekian lama dipelajari karena pernyataan sang ilmuwan sendiri juga sering ambigu. Ia dikabarkan mempercayai Judaisme, agama yang berakar dari filsuf Belanda Baruch de Spinoza. Namun, tak menganut konsep Tuhan yang Maha Esa.

Adapun pemikiran Spinoza yang terkenal adalah ajaran mengenai Substansi tunggal Allah atau alam. Baginya, Tuhan dan alam semesta adalah satu dan Tuhan memiliki bentuk, yakni seluruh alam jasmaniah. Aliran ini disebut panteisme-monistik. Terkait keyakinan yang dianutnya, Einstein sempat mengatakan, “Saya tak mempercayai Tuhan secara personal dan selalu menyatakan hal ini dengan jelas. Jika ada sesuatu dalam saya yang bisa dibilang relijius, maka itu kekaguman saya terhadap struktur dunia yang sejauh ini bisa diungkap sains,” tegasnya.

Jadi, sudah bisa ditarik kesimpulannya bukan? Bagaimana menurut Anda?

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ISLAM BERWAWASAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger